Apakah Semua Manusia Adalah Khalifah Allah?

August 18, 20079 komen

Apakah Semua Manusia Adalah Khalifah Allah?

Banyak kaum muslim berpendapat bahwa setiap manusia adalah Khalifah yaitu khalifatullah. Padahal Quran sendiri tidak berkata demikian, melainkan memberikan kategori-kategori yg harus di miliki atau yang harus di lakukan untuk sampai ke jenjang itu. Dan artikel ini akan mencoba menguraikan apa yang Quran katakan tentang Khalifah Allah…semoga bermanfaat.

Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku akan menciptakan di muka bumi seorang khalifah. Para malaikat serentak berkata, Apakah Engkau hendak menciptakan di muka bumi (makhluk) yang akan melakukan kerusakan dan akan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan menyanjung-Mu dan mensucikan-Mu? Seraya Allah menjawab, Sungguh Aku lebih mengetahui apa-apa yang tidak kalian ketahui. (QS. Al-Baqarah ayat 30).

Ayat di atas termasuk dari sekian firman Allah Ta’ala yang senantiasa segar dibahas dan dikaji. Hingga saat ini para ulama, khususnya Mufassirin (ahli tafsir Al-Qur’an), belum puas-puas dan tidak henti-hentinya mengungkap dan mengeksplorasi sedalam-dalamnya maksud dari ayat tersebut, untuk mendapat kebenaran darinya. Alasan mereka jelas dan sederhana. Karena ayat ini menyangkut eksistensi manusia yang sebenarnya.

Dengan memahami ayat tersebut secara baik dan benar, maka akan terpecahkan sebuah problema yang maha besar, yaitu hakikat manusia. Memahami hakikat manusia sangat menentukan pandangan dunia, ideologi, sikap, perjalanan dan nasib manusia setelah mati.

Hakikat manusia bagi sebagian pemikir dan filosof, masih merupakan teka-teki yang membingungkan. Umat Islam dengan pancaran cahaya Al-Qur’an, sedikit banyaknya terbantu dalam mengetahui hakikat manusia dan itu pun tergantung sejauh mana mereka memahami ayat tersebut.

Apa Arti Khalifah?

Islam memandang manusia sebagai khalifatullah, yakni khalifah Allah. Itulah hakikat manusia. Namun apakah dalam kenyataannya setiap manusia itu khalifatullah ? Bukankah di antara mereka ada yang kafir ?

Lalu apa yang dimaksud dengan manusia sebagai khalifatullah ? Atau bagaimana manusia menjadi khalifatullah ?Sebelum pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab, maka terlebih dahulu harus dipahami arti khalifah itu sendiri.

Khalifah atau khilafah, berasal dari akar kata khalaf yang berarti di belakang punggung, meninggalkan sesuatu di belakang atau sesuatu yang menempati tempat sesuatu yang lain. Al-Qur’an menyebut kata khalifah atau khilafah dengan berbagai turunannya. Selain itu, Al-Qur’an menggunakan kata khalifah untuk manusia dan untuk selain manusia.

Misalnya, ayat yang berbunyi, “Dialah yang menciptakan malam dan siang silih berganti (malam menempati siang dan siang menempati malam), bagi mereka yang mau berpikir atau bersyukur.” (QS. Al-Furqan : 62)

Ketika kata khalifah digunakan untuk manusia, kata ini mempunyai arti yang netral. Maksudnya bisa untuk kebaikan dan bisa pula untuk keburukan.

Lalu datanglah setelah mereka generasi (pengganti), yang melalaikan shalat dan mengikuti hawa napsu. Mereka kelak niscaya akan mendapatkan kesesatan.”(QS. Maryam : 59).

Atau firman-Nya yang berbunyi, “Maka datanglah setelah mereka generasi (pengganti), yang mewarisi kitab.” (QS. Al-Araf : 169).

Tetapi ketika kata khalifah disandarkan (di-idhafah-kan) kepada Allah atau Rasulullah, maka kata itu mengandung arti yang positif. Maksudnya jika yang diganti (al-mustakhlif) baik, maka yang menggantikannya (khalifah, mustakhlaf) harus baik juga. Andaikata tidak, maka akan merusak reputasi mustakhlif.

Manusia adalah khalifah dari Allah dan Allah adalah puncak segala kebaikan dan kesempurnaan. Dengan demikian manusia adalah titisan dari kebaikan dan kesempurnaan-Nya.

Jadi manusia berkedudukan sebagai wakil atau pengganti Allah di muka bumi. Yaitu manusia yang mempunyai kemampuan untuk mengatur dan mengubah alam. Manusia yang sedikit banyak mengetahui rahasia alam. Semua itu tidak berlaku bagi makhluk-makhluk lainnya. Akan tetapi bagaimana dengan kenyataan umat manusia zaman kini ? Sungguh ironis sekali bukan.

Syekh Taqi Mishbah berpendapat, bahwa kedudukan khalifah tidak terbatas pada Adam saja, melainkan manusia lain pun dapat menduduki jabatan khilafah dengan satu syarat, yaitu mengetahui asma. (lihat kitab Ma’arif Al-Qur’an, juz 3 hal 73).

Allamah Thabathaba’i dalam kitab Tafsir al-Mizan, jilid I halaman 116 berkata, “Khilafah tidak terbatas pada diri Adam as. saja, tetapi para keturunannya pun sama menduduki khilafah tanpa kecuali.”

Selanjutnya beliau menjelaskan, “Maksud mengajarkan asma, adalah menyimpan ilmu pada manusia yang senantiasa akan tampak secara bertahap. Jika manusia mendapatkan petunjuk, maka dia akan membuktikannya secara faktual (bil-fi’li) setelah sebelumnya berupa potensial (bil-quwwah).”

Maksud dari penjelasan Allamah Thabathaba’i di atas, bahwa manusia secara potensial adalah khalifah Allah. Namun yang mampu memfaktualkannya tidak semua manusia. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang mampu. Hal itu kembali kepada ikhtiar dan pilihan manusia itu sendiri.

Kriteria-Kriteria Khalifatullah

Pada dasarnya manusia diciptakan Allah sebagai khalifah-Nya. Namun hal itu masih berupa potensi, seperti yang telah dijelaskan terdahulu. Nah, agar potensi itu berkembang dan mewujud secara nyata, maka terdapat seperangkat kriteria yang harus dipenuhi sehingga manusia benar-benar menjadi khalifah Allah Ta’ala.
Kriteria-kriteria khalifah Allah itu ialah :

1. Ilmu

Kriteria pertama adalah ilmu. Pada ayat yang telah disebutkan terdahulu, selanjutnya disambung dengan ayat yang berbunyi :

Dia mengajarkan kepada Adam asma (nama benda-benda) semuanya, kemudian dia mempertunjukkannya kepada para malaikat. Lalu Allah berfirman (kepada para malaikat), Sebutkanlah kepada-Ku asma-asma itu, jika kalian memang benar ?”(QS. Al-Baqarah : 31).

Para mufasir berbeda pendapat tentang pengertian asma yang tercantum pada ayat di atas. Walaupun mereka berbeda pendapat tentang makna asma, tetapi yang pasti (al-qadru al-mutayaqqan) dan yang tidak diperselisihkan lagi adalah, bahwa Adam as. dibekali pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh para malaikat.

Sebagaimana telah kami kutipkan komentar Allamah Thabathaba’i tentang pengertian asma pada surat Al-Baqarah ayat 31 tersebut, beliau menjelaskan bahwa Allah telah menyimpan dalam diri manusia sebuah potensi ilmu, yang akan nyata dengan mengikuti petunjuk-Nya.

Jadi untuk menjadi khalifatullah, hendaknya manusia berilmu. Manusia yang tidak berilmu, tidak bisa dikatakan sebagai khalifah Allah Ta’ala.

2. Iman dan Amal

Pada ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman tentang kriteria khalifah-Nya.

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shaleh (kebaikan), bahwa Dia akan menjadikan mereka sebagai khalifah di bumi, Sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah.
Sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah diridhai-Nya untuk mereka, serta Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka menjadi aman setelah mereka ketakutan. Mereka akan menyembah-Ku dan tidak menyekutukan apapun dengan-Ku. Dan barang siapa kafir setelah itu, maka mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 55).

Pada ayat tersebut, jelas sekali Allah berjanji akan menjadikan hamba-hamba-Nya sebagai khalifah yang akan menguasai dan memimpin dunia. Tetapi janji itu akan ditepati-Nya bagi manusia yang beriman dan beramal kebaikan.

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa kriteria lain dari seorang khalifatullah adalah iman dan amal shaleh.

3. Memberi keputusan dengan benar (haqq) dan tidak mengikuti hawa nafsu, Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai Dawud, Kami jadikan engkau sebagai khalifah di bumi, maka berilah keputusan dengan benar dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shad : 26).

Allamah Thabathaba’i berkata, “Maksud khalifah di sini secara lahiriah adalah khalifatullah, sama dengan maksud dari firman Allah (pada surat Al-Baqarah ayat 30).

Dan seorang khalifah seharusnya menyerupai Yang mengangkat dirinya sebagai khalifah dalam sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Oleh karena itu khalifatullah di bumi hendaknya berakhlak dengan akhlak-akhlak Allah, berkehendak, bertindak sebagaimana yang Allah kehendaki dan memberi keputusan dengan keputusan Allah serta berjalan di jalan Allah.”

Selanjutnya ketika menafsirkan ayat :

“Dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”

Beliau berkata, “Makna ayat tersebut adalah, bahwa engkau dalam memutuskan (sesuatu) janganlah mengikuti hawa nafsu, maka engkau akan disesatkan olehnya dari kebenaran, yaitu jalan Allah.” (Tafsir al-Mizan, jilid 17 halaman 194-195).

4. Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa ber-amar ma’ruf dan nahi munkar, maka dia adalah khalifatullah di bumi dan khalifah kitab-Nya serta khalifah rasul-Nya.’’ (Kitab Mizan al-Hikmah, jilid 3 hal 80).

Kesimpulan:

Semua manusia secara potensial (bil-quwwah), diciptakan untuk menjadi khalifatullah. Namun agar potensi tersebut menjadi nyata (bil-fi’li), terdapat sejumlah kriteria yang harus dimilikinya, yaitu ilmu, iman, amal shaleh, memberi keputusan dengan benar, tidak mengikuti hawa nafsu dan ber-amar ma’ruf dan nahi munkar baru lah Khalifah Allah.

NB: Artikel ini ada di HD komputer saya, dan tidak ada nama sumbernya, sehingga saya lupa dari mana saya mengambil artikel ini. Jika ada yang tahu ataupun penulis artikel ini membacanya, silahkan utarakan di kolom komentar nanti saya akan tulis nama anda dan situs anda (jika punya).

  • http://varius-opinion.blogspot.com varius

    bi artikel ini bagus bi… buat sendiri nih?? btw abi kayaknya paham banyak tentang agama…. bi ente ni turunan arab bukan??

    • Abi Bakar

      Ini artikel orang yang ada di HD saya, tapi lupa dapet darimana

  • bwahyudi

    Tanpa kriteria, semua orang adalah khalifah, karena semua makhluk, semua kejadian, dan segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah kehendakNya. Semua dalam aturanNya, semua dalam hukumNya, jadi, kafir atau bukan, itu hanyalah pembagian dalam kemanusiaan, tetapi semua adalah kehendakNya. Jadi, semua manusia adalah khalifah.

  • http://ganryukg.wordpress.com/ GanryuKG

    artikel yang bagus …

  • eric

    :) salam kenal buat abi
    saya ada uneg uneg mudah mudahan sampeyan bisa bantu
    beerapa bulan yg lalu sya baca sebuah cerita disalah satu edisi buletin islami yg membahas tentang drakula dan cerita tentang kebenaran yg dibelokkan oleh pihak yg malu akan kejadian sesungguhnya.itu lho cerita vampire /drakula penghisap darah.tapi setelah saya baca ternyata isinya ada hubungannya dngn perang salib yg terjadi semasa kerajaan turki otonom apa sampeyan juga punya referensi yg mirip dgn yg sama baca atau punya cerita yb akurasinya terjamin.sebelumnya saya  ucapkantrimakasih atas bantuanya.

  • najam

    perlu juga diketahui jenis atau macam khlifah yang pernah ada dan dikemukakan dalam Al-Quranul karim, pertama Khalifah sebagai Manusia Nabi Allah seperti Nabi Adam a.s.atau juga Nabi Harun as, jenis Kedua Manusia Khalifatu Rasyidin bukan Nabi Allah, jenis ketiga Khalifah bukan juga Nabi tapi Manusia yang disyaratkan seperti diuraikan dalam tulisan diatas yaitu seorang manusia dari antara manusia yang : ber iman , ber amal sholeh, berilmu, ber takhallaqu bi akhlaqillah, tidak mengikuti hawa nafsu dalam keputusan nya, bil hikmah dan sabar.

  • http://mdsafkyo.blogspot.com mdsaf_kyo

    seperti ayat diatas, secara keseluruhannya, khalifah Allah merujuk @ ditujukan kepada manusia. dari segi bahasa, khalifah merupakan pengganti. Khalifah Ar-Rasyidin adalah pemerintah yg menggantikan pemerintahan Nabi Muhammad selepas kewafatannya.

    Khalifah Allah dimuka bumi pula boleh diterjemahkan, manusia sebagai khalifah Allah, iaitu Allah adalah pentadbir alam semesta yg memerintah sekelian makhluk ciptaanya. tetapi demi mentadbir bumi, Allah menjadikan manusia sebagai pengganti untuk mentadbir bumi.

    ya, Allah meciptakan manusia sebagai khalifah (pentadbir) dibumi, maka Allah turunkan Al-Quran sebagai panduan/petunjuk bagaimana seharusnya manusia mentadbir bumi. Dgn ilmu Allah (Al-Quran) itulah manusia seharusnya mentadbir bumi, tetapi tidak mustahil bg manusia yg ingkar, atau tidak mahu mengikut panduan Al-Quran utk mentadbir bumi @ menjadi pemimpin manusia berlandaskan nafsu mereka….(gila kuasa, harta dan sebagainya)

    sekadar perkongsian….Wallahua’lam.

  • rama

    aku mw tanya apakah khalifah, kata itu boleh di miliki oleh wanita
    tolong balaz ke Email aku yh,. trims,.

  • http://- garedd

    hai smua boleh berkenalan!!!!1!!!