Baca juga artikel ini:
- Pengertian Ilmaniah atau Sekularisme (November 11th, 2007)
Salahkah Jika Muslim Merasa Paling Benar?
Saya pribadi tidak merasa keberatan jika ada pihak yang merasa dirinya paling bener, entah dia Kristen, Yahudi bahkan penyembah Setan sekalipun, toh kalau dia merasa yakin apa yang dianutnya, kenapa kita yang kepusingan? Bukankah iman sebenarnya ialah iman yang yang total? Jika fenomena paling benar ini dihubungkan dengan keberagamaan segolongan orang, maka orang tersebut yakin 100% bahwa agama yang mereka anut dan sirat yang mereka tempuh ialah yang benar, yang lain salah/sesat dan kafir!
Saya rasa situasi seperti ini mencerminkan kejujuran, ketegasan dan sikap tidak munafik. Orang seperti ini tidak mau plintat-plintut dan tidak sungkan-sungkan menyatakan apa yang mereka yakini; ‘Isyhadu Bi Anna Muslimin!”. Lantas, kenapa pula harus di protes dan dipaksa untuk sama?
Sebagian rekan dari mazhab Liberal Indonesia (Ulil dkk) sering melontarkan kritik kepada kaum Muslim yang tidak ingin bermuka dua dalam beragama, bagi mereka golongan Muslim seperti ini tidak toleran dan tidak peka terhadap keragamaan iman yang ada di RI. Melihat kondisi Indonesia yang sarat akan keragamaan maka sudah sewajarnya, berbagai pihak tidak boleh mengklaim diri paling benar. Karena nantinya akan timbul ketidak harmonisan bagi hubungan lintas iman.
Ini repot, karena kadar keyakinan tiap orang terhadap imannya dipaksa berkurang hanya karena alasan keragamaan. Logika seperti ini bagi saya sungguh tidak ilmiah, karena tidak ada rujukan baik dari sisi teologi maupun historis Islam, bahwa seorang Muslim harus mengakui kebenaran agama lain hanya alasan keragamaan dan perbedaan iman. Lantas kawan-kawan dari mazhab Liberal ini mendapat masukan dan ide dari mana untuk ber- istimbat begini?
Kalau kita melihat sejarah hubungan antar Islam dan agama lain, maka tidak sekalipun kita temui peperangan terjadi dikarenakan umat agama lain tidak mengakui kebenaran agama umat Islam, atau sebaliknya. Namun motif ekonomi, politik dan self-defense lah yang memicunya.
Contohnya pada perang antara kaum Muslim dengan kaum Yahudi, apakah mereka berperang dikarenakan motif atas sikap yang tidak mau mengakui kebenaran pihak lain dan tidak peka keragamaan?
Tentu ashabul liberal tahu, pemicu terjadinya perang antara kaum Muslim dengan bani Qainuqa, Nadhir dan Qurayzah bukan dikarenakan umat Islam merasa paling benar atau sebaliknya umat Yahudi paling benar. Namun adanya pengkhianatan, tikam dari belakang dan pembatalan sepihak piagam Madinah yang mereka sepakati bersama.
Dan perang Salib pun terjadi, bukan karena motif klaim kebenaran, namun karena serbuan-serbuan klan Seljuk pada daerah-daerah kekesairan Byzantium (Romawi Timur), yang kemudian Kaisar Alexus Comnenus meminta bantuan Paus Urbanus II. Kaisar itu meminta bantuan Romawi Barat dari ancaman agresi bani Seljuk. Dan tak lupa agenda tersembunyi Paus saat itu yang ingin menyatukan gereja Yunani – Romawi. Dus, terjadilah darmawisata berdarah prajurit Salib dari dunia Barat ketanah kelahiran para nabi(dunia Timur) dan perang akbar yang berlangsung selama hitungan abad antara dunia timur vs dunia barat. Dan tragedi ini terjadi bukan KARENA KLAIM KEBENARAN.
Dan jikalau ditinjau dari sisi teologi Islam, maka anda tidak akan temukan satu ayatpun yang menyerukan umat Islam untuk mengakui kebenaran agama lain, pula mewajibkan perang terhadap mereka yang tidak seiman jika menolak mengakui kebenaran Islam!
Bahkan al Qur’an dengan tegas mengatakan Kafirlah bagi mereka yang mengatakan Isa ibn Maryam adalah Allah SWT;
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. [Al Maa'idah : 72]
Begitupun kafir bagi mereka yang mengatakan Allah SWT adalah salah satu oknum trinitas;
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. [Al Maa'idah : 72]
Begitupun murka Allah SWT terhadap bani Israil yang hobi merubah-rubah firman Allah SWT dan membubuhi kebohongan:
Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui. [Al Baqarah 75]
Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga [Al Baqarah : 78]
Dus, telah jelas mana jalan yang lurus dan sesat:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…[Al Baqarah : 256]
Maka gagasan semua agama sama-sama membawa kebenaran yang dipropagandakan Ashbul JIL sama sekali tidak membawa manfaat apa-apa. Kecuali hanya menciptakan situasi yang mengada-ada dan menjadi mesin produktif untuk mencetak manusia-manusia bermuka dua.
Dan sudah seharusnya umat Islam menolak mengakui kebenaran maghddubi alaihim (orang-orang yang Allah murkai = Yahudi) dan dhallin (orang-orang yang sesat = Nasrani).
Wa Akhirul Kallam, Wassallam Mu Alikum Warrahmatullahi Wabbarakatuhhu…
NB: Artikel ini bukan ditujukan untuk menyerang kaum Nasrani pula Yahudi, namun untuk mengevaluasi pendapat golongan liberal yang mengakui diri mereka sebagai Muslim dan saya mengevaluasinya dengan memakai perspektif Islam.
wah keren ane setuju bangeut tuh, pendapat jil dkk ngga ada yg baru dari apa yg telah di lontar almarhum Cak Nur.
yang membedakan Cak Nur itu santun dan bisa menerima perbedaan, sedangkan Ulil dkk terlalu bertingkah arogan..
[Reply]
Benar! ide2x mereka sekarang ini hanya sebagai penglangan ide2x lama dari alm Cak nur, alm ahmad wahib dengan sedikit dimodifikasi.
Dan saya setuju jika generasi baru liberal bertingkah arogan dibanding senior2xnya. Ini dikarenakan produk pemikiran mereka memberikan peluang untuk tidak fair, seibarat sebagai wasit mereka pun ikut2x an bertanding, mereka telah menjadi wasit yang arogan, mengklaim diri netral dengan pluralisme dan liberalismenya, namun dilain pihak menyerang orang lain yang ingin beragama secara bener agar ikut dengan alirannya.
[Reply]
enggak..enggak salah jika muslim, kristen dan yahudi merasa paling benar…kondisi begini wajar kok.
tapi yang salah adalah orang yang sudah ragu terhadap agamanya kemudian mengajak orang lain untuk ragu terhadap agamanya.
[Reply]
yg sering terjadi skrg sesama muslim saling mencela ibadah saudaranya, merasa ibadahnya yg paling benar dan mengklaim sbg ahlul sunah waljamaah.
[Reply]
@Lady, iya itulah salah satu dari sekian masalah ditubuh kaum Muslim yang mesti dicari solusinya.
[Reply]
sungguh Islam adalah agama yang terbaik untuk kita.
tak ada salah menurut saya.
[Reply]
@setuju liez
[Reply]
Emang kita harus menganggap agama kita yg benar dan lainnya salah. Tapi orang hindu menolak itu. Mereka menganggap semua agama itu sama, itu cuma jalannya saja yang beda2.
Waktu aku membahas Sai Baba, orang2 hindu pada ngomong seperti itu.
Jadi ternyata, tidak semua agama memiliki konsep semacam itu.
[Reply]
Silahkan jika orang-orang Hindu berpendapat demikian. Kita hargai saja.
[Reply]
tapi agama yang yang diridoi oleh alloh cuma islam n itu tertulis abadi di al-qur’an
[Reply]
Kadang kita sadar bahwa ada ayat2 internal dan ada ayat2 external. Ayat internal seperti yang disebut itu, untuk pegangan kita sebagai muslim dan mesti begitu.. namun saat ayat ini dilontarkan kepada agama lain, mereka sangat tersinggung.
Karenanya Al Qur’an menyebut ayat external: “Lakum dinukum waliyadiin” ini yang dikampanyekan untuk memberi solusi perdamaian antar umat beragama.
Sedangkan kebencian orang2 agama lain, lihat situs2 diinternet amat sangat mendeskreditkan agama islam. Mereka menginput dari hadits2 shoheh misalnya: “jahidil kuffar”, umat Islam dituduh sadis, arogan dll….
Btw, ashabul JIL memang rada “kasar” dalam mengkritisi orang2 sendiri (islam) dalam mengkampanyekan kebenaran di ruang publik. Namun tidak semuanya begitu, adanya kritik dari JIL dan ashabnya, menjadi wacana bagus untuk direngung2i. Karena selain itu banyak tulisan JIL yang juga bermanfaat dalam mengemas informasi keislaman… So, keseimbangan dalam berfikir amat diperlukan bagi kita…
Makasih Pak Ustadz atas nice artikelnya, dan salam kenal dari wong Crebon…
salaman dulu ah, minal aidin walfaizin.. (saya tahu blog ini dari NOVEE betawi).
[Reply]
@Zaldeeho, sebelumnya salam kenal + salaman dulu, makasih dah mampir yah…(kirim salamnya buat Novee)
Saya setuju dan memang saya juga tidak stereotype dalam menilai semua tulisan ashabul JIL, karena didalamnya masih ada nilai yang dapat diambil tuk dijadikan introspeksi dan masukan dari tulisan mereka.
(nb: saya bukan ustad loh hehehe)
Terima kasih untuk komentarnya yang kritis.
[Reply]
sah sah saja mengaku paling benar, tapi jangan paksakan kebenaran anda sama orang lain (bukan muslim)
[Reply]