Apakah Nabi Muhammad Seorang Pedofilia

June 20, 200759 komen

Jika boleh meminjam perkataan William Montgomerry Watt bahwa, “Tiada tokoh besar dalam sejarah yang paling banyak difitnah selain Nabi Muhammad (Saw)”. Ia benar dan saya pribadi setuju dengan kata-katanya, memang tokoh sentral umat Islam inilah tokoh dunia yang paling banyak menuai fitnah dan kritik dibanding tokoh lain. Sederet fitnah yang di lemparkan kepada beliau (saw) merupakan deskripsi jelas betapa berpengaruhnya pribadi nabi besar Muhammad saw dihati dan sanubari mereka.

Dan Insya Allah dari semua fitnahan tersebut akan saya bahas dan tulis di blog ini, namun kali ini saya akan mengangkat sebuah fitnah yang sangat keji, yakni Nabi Muhammad seorang pedofilia. Yang Insya Allah artikel singkat ini dapat mencurahkan sedikit cahaya kebenaran kepada mereka yang tidak mengerti dan belum mengetahui…Amiin Allahuma Amiiin.

Mari kita baca definisi dan gejala Pedofilia:

Di ambil dari http://www.polfed.org/magazine/08_2001/80_2001_paedophile.htm

“Low self esteem. Many pedophiles, although by no means all, do not have a great sense of capacity for adopting a sexual demeanor towards adults or those of their own age or older. They feel unhappy and fearful at the prospect of sexual behaviour with adults and hence turn to children due to the fact that they are unable to have the strength of personality to seek adults for sexual demeanor. When considering treatment therefore it is important to establish and develop a higher sense of self-esteem in such individuals.”

Artinya:

Rendah diri. Pada umumnya penderita pedofilia, meskipun tidak semuanya, tidak mempunyai keinginan untuk melakukan hubungan seksual dengan orang dewasa atau yang seusia dengan dia atau lebih tua. Mereka merasa tidak bahagia dan takut akan prospek hubungan seksual dengan orang dewasa, oleh karena itu mereka mengarahkannya kepada anak-anak. Di karenakan mereka tidak mempunyai kepribadian yang kuat untuk melakukannya dengan orang dewasa. Maka diperlukan terapi yang dapat membantu mereka untuk menumbuhkan rasa percaya diri.

Hal diatas sama sekali tidak bisa dihubungkan dengan nabi Muhammad, beliau sama sekali bukan seorang yang rendah diri (minder). Semasa hidupnya beliau mempunyai ribuan pengikut, mustahil seorang yang minder dapat melakukan seperti yang beliau telah lakukan 14 abad lalu.

Hal kedua, nabi Muhammad saw tidak mempunyai rasa takut untuk melakukan hubungan sexual dengan wanita dewasa, contohnya ialah dengan Siti Khadidjah ra, istri pertama beliau yang usianya 15 tahun lebih tua.

Biografi dari Safiur-Rahman al-Mubarakpuri:

Khadijah Bint Khuwailid:
Pada saat di Mekkah — sebelum peristiwa Hijrah — rumah tangga nabi terdiri dari beliau (saw) dan istrinya Khadidja binti Khuwailid. Beliau berusia 25 tahun dan Khadidjah (ra) berusia 40 tahun disaat mereka menikah. Ia wanita pertama yang beliau nikahi. Ia satu-satunya istri yang beliau miliki hingga siti Khadidjah (ra) wafat. Beliau memiliki beberapa orang putra dan putrid dari hasil perkawinannya dengan Siti Khadidjah (ra). Namun tidak satupun putranya yang hidup hingga dewasa. Semuanya wafat. Putri-putrinya adalah Zainab (ra), Ruqaiya (ra), Ummu Kulthum (ra). dan Fatimah (ra).

Lebih lanjut mengenai pidofilia:

“Lack of impulse control. Many pedophiles find it extremely difficult to deal with the impulsive nature which inclines them towards sexual behaviour to children. They simply cannot control their need for engaging children in sexual practices. They might be said to suffer from an obsessive-compulsive condition. Here again treatment would involve developing better impulse control and of course redirecting the sexual inclinations.”

Artinya:

“Rendah penguasaan diri. Penderita pedofilia sangat sulit menguasai diri mereka dan mendorong mereka untuk melakukan hubungan sexual terhadap anak-anak. Mereka sama sekali tidak dapat mengendalikan kebutuhan mereka untuk melakukan hubungan sexual dengan anak-anak. Mereka bisa dikatakan menderita suatu kondisi yang disebut obsesi menuruti dorongan kata hati. Sebuah terapi yang baik mungkin akan mengembangkan penguasaan pengendalian diri mereka lebih baik dan tentu mengalihkan kecendrungan sexual mereka.

Jelas sekali deskripsi diatas sama sekali tidak cocok dengan Nabi Muhammad, nabi Muhammad saw orang yang paling tangguh dalam menguasai dirinya dan hawa nafsunya. Dan istri beliau Siti Aisyah (ra) memberikan kesaksian tentang hal ini:

Sahih Al-Bukhari

Volume 1, Kitab 6,r 299:

Diriwayatkan ‘Abdur-Rahman bin Al-Aswad:

…”Aisyah pernah berkata :”Setiap kali Rasulullah SAW ingin membelaiku (to fondle) selama masa-masa haid, Nabi SAW menyuruhku mengenakan izar (pembalut wanita) yang dikenakan dibawah pinggang…dst Aisyah menambahkan,”Tidak ada satupun dari kalian yang dapat mengendalikan nafsu seksualnya seperti Nabi.”

Jika beliau adalah seorang pedofilia maka ia sudah pasti akan menggauli Aisyah tepat saat ia berusia 6 tahun (usia Aisyah menikah) dan sudah barang tentu beliau akan menikahi sejumlah gadis lain yang seusia Aisyah atau dibawahnya dan menggauli mereka, namun beliau tidak pernah melakukannya.

Ciri dan gejala lain seorang pedofilia ialah kesepian, lagi-lagi hal ini tidak ada pada diri nabi Muhammad saw, beliau selalu dikelilingi istri-istrinya dan para sahabatnya, bahkan mungkin beliau tidak memiliki privasi. Dan gejala lain ialah, seorang pedofilia adalah yang mempunyai pengalaman mendapat pelecehan seksual semasa kecil atau dalam hidupnya. Dan hal ini lagi-lagi tidak pernah ada pada diri nabi Muhammad saw.

  • Ismail

    subhanallah artikel yang bagus sekali senang saya membacanya dan menambah pengetahuan baru…terima kasih abi.

  • Agam

    Tampaknya ini menjadi jawaban bagus untuk para penghujat Islam. Kemaren kesasar di http://www.indonesia.faithfreedom.org/
    banyak yang menghujat Rasulullah. Mau ikut ngomentari dengan artikel ini sih, tapi rasanya koq percuma orang keras kepala seperti mereka diberitau.

  • Abi Bakar

    Percuma agam, memberitakan ini kepada mereka dan aktif di forum laknatullah itu, gak akan ada manfaat. dan partisipannya pun hanya jago kandang dan main keroyokan, buktinya bisa dilihat ketika saya buka fordis untuk kritisi Islam mereka tidak ada yang berani aktif disana.

  • maxx

    uuuh lagian kenapa pusing omongan kafir

  • Muslim Bandung

    Asalamualaikum Pak Abi.

    Pak Abi, bisakah bapak menjelaskan mengenai silsilah Nabi Muhammad. Sebab orang-orang kafir telah menuduh bahwa Nabi Muhammad adalah bukan keturunan Nabi Ismail.

    Pak Abi mohon dibaca website kristen dibawah ini

    http://www.answering-islam.org/Shamoun/ishmael2.htm

    Bagaimana komentar dari Pak Abi. Sebab kalau kita hanya diam saja mnrt saya ini sangat tidak tepat. Website Kristen tsb merujuk pada buku karangan Ibn Kathir. Dan dalam buku Ibn Kathir dijelaskan spt demikian. Tapi saya belum baca krn gak punya buku tsb.

    Mohon dibuat artikel tersendiri Pak mengenai silsilah ini agar dapat dicari dengan mudah.

    Wasalam

  • Abi Bakar

    Waalikum sallam wr wb@Muslim Bandung, insha Allah besok atau lusa saya posting jawaban mengenai pertanyaan antum.

  • zeff

    Terina Kasih atas Postingannya, Semoga Postingan ini dibaca oleh KAFIR LAKNATILLAH yang telah menghina nabi

    • Abi Bakar

      Tidak sekedar dibaca namun pula disadari oleh mereka…amiiin

  • http://www.batan.go.id ummi nisa

    saya mencari artikel ini untuk mecari jawaban pembenaran kenapa Nabi Muhammad SAW menikahi Siti Aisyah yang waktu itu masih berumur 9 th (dibawah uumur) seperti yang ditanyakan oleh temen saya yang non muslim, dan Alhamdullilah dengan artiklel ini mudah2an pertanyaan dibenak teman saya terjawab

  • http://puteriezza.com Puteri Ezza

    Salam.

    Postingnya sangat bagus. Ia bisa mengubah persepsi negatif para Kaifurun ke atas Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW.

    Jika saudara punya kelapangan, silakan juga ke blog saya ya.

  • http://puteriezza.com Puteri Ezza

    Pembetulan ya: Kaifurun = Kafirun

  • PipingTon

    Terus terang saya tertarik untuk berkomentar di sini
    karena saya melihat ketidak kokohan pembelaan yang abi
    sajikan dalam polemik ini. Karena begitu jelas di situ
    hanya sekedar usaha untuk memberikan perlawanan atau
    jawaban dari pertanyaan sulit ini, dan dikuatkan oleh
    pendapatdan kesimpulan pribadi Abi sendiri atas kutipan
    -kutipan hadist tersebut.
    Dengan demikian pihak lawan akan dengan mudah meruntuhkannya
    seperti misalnya, tentu saja nabi bisa menahan diri, karena
    beliau kan punya isteri lain untuk melampiaskan keinginannya,
    Saya juga bisa begitu kalau istriku lebih dari satu
    dan tentu saya jijik kalau memaksa sanggama saat dia haid
    sekalipun keiginan saya sudah sampai di ubun-ubun
    kecuali kalau saya punya kelainan… nah!?
    (hal ini menanggapi kutipan pernyataan Siti Aisyah tentang
    kemampuan nabi dalam mengendalikan nafsunya).

    Sedangkan soal definisi yang dikemukakan sebagai bahan rujukan terlalu

    lemah dan jelas-jelas menyatakan “pada umumnya…, meskipun tidak

    semuanya”. para penghujat dapat mengatakan “perkecualian untuk nabi”.
    Sebab dari banyak laporan dijumpai juga orang-orang yang tidak sesuai

    definisi tersebut karena memang manusia bukan produk pabrik yang bercirikan

    sama. Batasan tersebut masih amat relatif. Coba bandingkan ciri-ciri

    homoseksual dengan pelaku-pelakunya yang dilaporkan dalam berita heboh

    dijalur Gaza akhir-akhir ini.

    Yaah,… memang repot kalau harus menanggapi satu persatu
    setiap hujatan yang dilontarkan pada kita. Tapi kita yakin
    bahwa yang benar-benar baik akan tetap baik walaupun diinjak-injak dan

    dihinakan. demikian pula sebaliknya.
    Percayalah akan hal ini. Sang Pencipta sendiri yang akan menunjukkan

    kebenaran itu.

    Satu hal yang ingin saya kemukakan di dalam forum ini.
    seringkali tindakan kita sendiri yang menyebabkan ketidak-sukaan orang lain

    kepada kita yang kemudian berlanjut pada kebencian mereka pada keyakinan

    kita karena mereka menganggap hal itu berangkat dari ajaran yang kita

    pegang dan kita yakini.
    Yang pada akhirnya memicu usaha-usaha untuk saling menjatuhkan dengan

    berbagai hujatan kasar dan pedas, mencari kesalahan dan kelemahan masing-

    masing untuk menjadi bahan perdebatan dan seterusnya. Mungkin kita bisa

    belajar dari lawan-lawan kita yang justeru lebih arif dalam bertindak dan

    berperilaku sehingga mereka lebih banyak mengundang simpati dan pendukung.
    Coba lihat bagaimana yang jelas-jelas kita menentang seperti goyangan si

    Inul justeru mendapat simpati dan dukungan dari banyak orang ?.

    Kalau kita mawas diri, tentunya kita akan melihat ada banyak
    perilaku kita baik secara pribadi maupun kelompok yang telah memberi kesan

    buruk tentang keyakinan kita. Sementara dari anggota kelompok kita sendiri

    yang tidak setuju dengan perilaku itu tidak berani menentang atau paling

    tidak mengungkapkannya secara terus terang karena takut melawan arus, dan

    akhirnya hanya berusaha melihat pada sisi positifnya. Namun dampak yang

    terjadi tetap memberikan nilai dan cap buruk tentang keyakinan kita.

    Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kita tidak perlu kuatir soal

    kebenaran itu. tetapi tindakan kita atau kelompok kita yang seperti itu

    akan tetap memicu hal-hal buruk dari pihak lawan.
    Contoh sederhana yang mungkin perlu direnungkan adalah cara kita berdoa

    yang mungkin saja mengganggu ketenangan orang lain. misalnya saya

    mengadakan pengajian di rumah dengan memasang speaker menghadap ke

    tetangga. Apapun alasannya kita tidak tahu apakah tetangga yang bisa saja

    beriman sama dengan kita merasa terganggu, terlebih jika mereka tidak

    seiman. Hal-hal kecil ini, yang sedikit demi sedikit dipendam lama-lama

    akan menimbulkan rasa benci yang mendalam dan kesan buruk, padahal maksud

    kita baik. Mereka diam saja dan tidak mengungkapkannya langsung atau terus

    terang perasaan itu karena takut. Mungkin kita bisa juga masa bodoh dengan

    hal ini.

    Saya ingin memberikan sedikit analogi untuk ilustrasi mengenai hal ini.
    Saya mengibaratkan orang berdoa itu seperti orang yang buang air besar.
    ma’af kalau analogi ini tidak pas di hati Abi.
    Orang yang buang air besar itu sangat pribadi, dan enggan diganggu.
    tidak pernah saya jumpai (kalau memang ada) orang yang berteriak-teriak

    atau buang air sambil bernyanyi keras-keras walau di dalam WC dan rumahnya

    sendiri. tentunya dia akan menyelesaikan hajatnya dengan tenang. Ini akan

    baik dan tidak akan menggangu orang lain disekitarnya.

    Coba bayangkan kalau dia berteriak-teriak atau bernanyi lagu kesukaannya

    dengan keras, seperti anak kecil tetangga saya yang suka menyanyi “Ibu Kita

    Kartini” sekeras-kerasnya, saat dia buang air besar. Tetangga yang sedang

    makan di rumah sebelah akan kehilangan seleranya. atau jika tetangga kita

    ini sedang sakit gigi… Beruntunglah dia kalau si tetangga tidak

    mendatanginya dan menyiramkan seember air ke mukanya.
    Itu hanyalah ilustrasi dan analogi.
    Sekali lagi mohon maaf jika tidak pas.

    Di sini saya ingin mengungkapkan banyak perilaku kita yang perlu di

    perbaiki, terutama dalam hal privasi dan yang dapat mengganggu orang lain,

    sekalipun hal itu sudah biasa sejak dulu. Justeru karena sudah lama hal ini

    telah lama pula menumpuk rasa benci dan tidak suka kepada kita.
    Dan seandainya itu harus tetap kita lakukan, tentu ada cara-cara lain yang

    lebih arif dan bijaksana untuk melakukannya.

    ada beberapa perilaku yang bisa dijadikan awal perbaikan yang bisa usulkan

    saat ini, mungkin yang lain dapat menambahkannya yaitu antara lain:
    - penggunaan speaker di masjid saat adzan.
    - panggilan sahur pada bulan puasa
    - penggunaan speaker dalam pengajian di rumah.

    Kita semua terutama generasi muda kita mari kita ciptakan kesan Damai,
    yang sesungguhnya, sesuai dengan ajaran yang kita terima.
    Semoga dengan adanya perubahan sikap dan perilaku kita akan dapat

    mengakhiri rasa permusuhan dan kebencian mereka pada keyakinan kita.

    terima kasih atas perhatiannya.

    • PipingTon

      memang benarlah bahwa Allah tidak mempermasalahkan soal CARAnya tetapi lebih pada NIAT kita, karena bagi Allah yang terpenting adalah MAKSUDnya. Soal cara tidaklah begitu penting. Tetapi kenyataannya Allah juga lebih menyukai orang yang ARIF daripada orang yang BODOH.

      Mengenai hal-hal ini kita dapat dengan mudah menemukan ayat-ayat yang menjadi DALIL dan HUKUMnya di dalam Quran atau di dalam kitab suci agama lain yang serupa.

      Yang sering terjadi adalah bahwa kita lebih banyak berbuat baik tetapi dengan niat jahat dan niat yang baik tetapi dengan cara yang tak terpuji. Dan kedua-duanya tidak disukai oleh Allah, terlebih lagi perbuatan jahat disertai niat yang jahat pula,.. Nah yang terakhir ini adalah perbuatan pengikut Syaitan.

      Yang BENAR adalah perbuatan BAIK didasarkan pada NIAT yang baik pula. Dan sebaliknya NIAT yang BAIK diwujudkan dengan perbuatan yang BAIK juga. Allah yang Maha Mengetahui akan memberkati dan mengasihi orang yang demikian itu.

      Oleh sebab itu menjadi orang yang ARIF dan BIJAKSANA adalah permohonan kita yang terbaik kepada Allah.

      Dan kita harus tetap waspada atas segala perbuatan orang sekalipun nampak sebagai hal yang BAIK di mata kita.
      Hanya Allah lah yang Maha Mengetahui segala NIAT an yang ada di balik semuanya itu. Jadi,… WASPADAlah.!!!
      Jangan mudah tertipu olehnya.
      Berdoalah agar kamu tidak terperdaya olehnya.
      Dan kalau kamu cermat, kamu akan melihat buah-buah yang dihasilkannya.
      Tidak ada buah-buah yang baik akan dihasilkan oleh pohon yang buruk, meskipun sering kita jumpai buah-buah yang buruk juga dari pohon yang baik.
      Tetapi yang datang dari Allah akan selalu menghasilkan hal yang baik saja, karena Allah itu BAIK adanya.

    • Abi Bakar

      Makasih mas Pipintonton,

      Jika memang menurut mas posting saya diatas tidaklah kokoh dan mudah dilumpuhkan oleh lawan, lalu bisakah anda tunjukkah argumen yang kokoh menurut anda, sehingga saya bisa mengkajinya dan saya akan posting argumen anda di blog ini.

      Mengenai tulisan saya di atas, saya menyajikan 2 argumen yg saling berhubungan yaitu dari sisi psikologis seorang yng dinyatakan pedofilia secara medis, seperti yg sudah terurai di posting ini. Yang bisa ditarik kesimpulan bahwa secara sikologis tidak ditemukan ciri-ciri pedofilia pada diri Nabi Muhammad saw.

      Dan argumen ke 2 ialah, sejarah tekstual dan kesaksian istri beliau. Bahwa menurut sejarah tekstual (Hadist), nabi Muhammad mempunyai istri (Khadidjah ra) yang jauh lebih tua darinya, yaitu 15 tahun dan beliau juga terkenal sebagai orang yang paling tangguh menahan hawa nafsu menurut Aisyah ra, seperti tertulis di posting ini.

      Dan saya mau menanggapi tulisan mas yang berikut:

      Dengan demikian pihak lawan akan dengan mudah meruntuhkannya
      seperti misalnya, tentu saja nabi bisa menahan diri, karena
      beliau kan punya isteri lain untuk melampiaskan keinginannya,

      Jika argumen tersebut yang dibawa oleh pihak lawan, saya akan menjawabnya, oke jika menurut anda hawa nafsu beliau bisa di lampiaskan kepada istri-istri yang lain karena beliau punya cadangan istri, namun kenapa cadangan Istri yang lain tidak seusia Aisyah, bukankah menurut kalian Nabi saw seorang pedofilia? Bukankah argumen tersebut malah menjatuhkan argumen mereka, karena saya akan mengembalikannya.

      Jika nabi Muhammad saw seorang pedofilia mustinya ia punya lebih dari satu anak seusia Aisyah. Namun pada kenyataannya hanya Aisyah ra seorang, dan istri-istri beliau lainnya jauh di atas usia Aisyah ra saat dinikahkan, bahkan ada beberapa yg hampir sebaya dengan nabi Muhammad saw.

      Tulisan mas selanjutnya:

      Sebab dari banyak laporan dijumpai juga orang-orang yang tidak sesuai definisi tersebut karena memang manusia bukan produk pabrik yang bercirikan sama.

      Memang manusia bukan hasil buatan pabrik yg 100% sama, namun ciri khas dan umum pedofilia adalah 1 = mempunyai kelainan psikologis dan kelainan seksual yg membuat mereka tertarik berhubungan intim dengan anak di usia sangat dini.

      Dan akan mengembalikan pada jawaban di posting ini, bahwa ciri-ciri khas umum pedofilia tidak di temukan pada diri Nabi Muhammad saw baik secara psikologis juga seksual, keculi pernikahannya dengan Aisyah ra.

      Namun begitu saya tidak pernah mengklaim bahwa tulisan saya diatas adalah Solid dan tidak terbantahkan, namun bisa dikaji dalam wacana diskusi yg konstruktif sehingga dapat ber evolusi menjadi sebuah kesimpulan yg akurat.

      Makasih respon membangunnya dan wassallam.

      • http://pipington.multiply.com/ pipington

        em,…
        berantakan sekali posting saya ya,..
        rasanya perlu saya posting ulang. agar lebih enak dibaca dan mudah dimengerti.

      • http://pipington.multiply.com/ pipington

        Terus terang saya tertarik untuk berkomentar di sini karena saya melihat ketidak kokohan pembelaan yang abi sajikan dalam polemik ini. Karena begitu jelas di situ hanya sekedar usaha untuk memberikan perlawanan atau jawaban dari pertanyaan sulit ini, dan dikuatkan oleh pendapatdan kesimpulan pribadi Abi sendiri atas kutipan-kutipan hadist tersebut.

        Dengan demikian pihak lawan akan dengan mudah meruntuhkannya seperti misalnya, tentu saja nabi bisa menahan diri, karena beliau kan punya isteri lain untuk melampiaskan keinginannya, Saya juga bisa begitu kalau istriku lebih dari satu dan tentu saya jijik kalau memaksa sanggama saat dia haid sekalipun keiginan saya sudah sampai di ubun-ubun kecuali kalau saya punya kelainan nah!? (hal ini menanggapi kutipan pernyataan Siti Aisyah tentang kemampuan nabi dalam mengendalikan nafsunya).

        Sedangkan soal definisi yang dikemukakan sebagai bahan rujukan terlalu lemah dan jelas-jelas menyatakan pada umumnya, meskipun tidak semuanya. para penghujat dapat mengatakan perkecualian untuk nabi. Sebab dari banyak laporan dijumpai juga orang-orang yang tidak sesuai definisi tersebut karena memang manusia bukan produk pabrik yang bercirikan sama. Batasan tersebut masih amat relatif. Coba bandingkan ciri-ciri homoseksual dengan pelaku-pelakunya yang dilaporkan dalam berita heboh dijalur Gaza akhir-akhir ini.

        Yaah, memang repot kalau harus menanggapi satu persatu setiap hujatan yang dilontarkan pada kita. Tapi kita yakin bahwa yang benar-benar baik akan tetap baik walaupun diinjak-injak dan dihinakan. demikian pula sebaliknya. Percayalah akan hal ini. Sang Pencipta sendiri yang akan menunjukkan kebenaran itu.

        Satu hal yang ingin saya kemukakan di dalam forum ini. seringkali tindakan kita sendiri yang menyebabkan ketidak-sukaan orang lain kepada kita yang kemudian berlanjut pada kebencian mereka pada keyakinan kita karena mereka menganggap hal itu berangkat dari ajaran yang kita pegang dan kita yakini. Yang pada akhirnya memicu usaha-usaha untuk saling menjatuhkan dengan berbagai hujatan kasar dan pedas, mencari kesalahan dan kelemahan masing-masing untuk menjadi bahan perdebatan dan seterusnya.

        Mungkin kita bisa belajar dari lawan-lawan kita yang justeru lebih arif dalam bertindak dan berperilaku sehingga mereka lebih banyak mengundang simpati dan pendukung. Coba lihat bagaimana yang jelas-jelas kita menentang seperti goyangan si Inul justeru mendapat simpati dan dukungan dari banyak orang ?. Kalau kita mawas diri, tentunya kita akan melihat ada banyak perilaku kita baik secara pribadi maupun kelompok yang telah memberi kesan buruk tentang keyakinan kita. Sementara dari anggota kelompok kita sendiri yang tidak setuju dengan perilaku itu tidak berani menentang atau paling tidak mengungkapkannya secara terus terang karena takut melawan arus, dan akhirnya hanya berusaha melihat pada sisi positifnya. Namun dampak yang terjadi tetap memberikan nilai dan cap buruk tentang keyakinan kita.

        Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kita tidak perlu kuatir soal kebenaran itu. tetapi tindakan kita atau kelompok kita yang seperti itu akan tetap memicu hal-hal buruk dari pihak lawan. Contoh sederhana yang mungkin perlu direnungkan adalah cara kita berdoa yang mungkin saja mengganggu ketenangan orang lain. misalnya saya mengadakan pengajian di rumah dengan memasang speaker menghadap ke tetangga. Apapun alasannya kita tidak tahu apakah tetangga yang bisa saja beriman sama dengan kita merasa terganggu, terlebih jika mereka tidak seiman. Hal-hal kecil ini, yang sedikit demi sedikit dipendam lama-lama akan menimbulkan rasa benci yang mendalam dan kesan buruk, padahal maksud kita baik. Mereka diam saja dan tidak mengungkapkannya langsung atau terus terang perasaan itu karena takut. Mungkin kita bisa juga masa bodoh dengan hal ini.

        Saya ingin memberikan sedikit analogi untuk ilustrasi mengenai hal ini. Saya mengibaratkan orang berdoa itu seperti orang yang buang air besar. ma’af kalau analogi ini tidak pas di hati Abi.

        Orang yang buang air besar itu sangat pribadi, dan enggan diganggu. tidak pernah saya jumpai (kalau memang ada) orang yang berteriak-teriak atau buang air sambil bernyanyi keras-keras walau di dalam WC dan rumahnya sendiri. tentunya dia akan menyelesaikan hajatnya dengan tenang. Ini akan baik dan tidak akan menggangu orang lain disekitarnya.

        Coba bayangkan kalau dia berteriak-teriak atau bernanyi lagu kesukaannya dengan keras, seperti anak kecil tetangga saya yang suka menyanyi Ibu Kita Kartini sekeras-kerasnya, saat dia buang air besar. Tetangga yang sedang makan di rumah sebelah akan kehilangan seleranya. atau jika tetangga kita ini sedang sakit gigi Beruntunglah dia kalau si tetangga tidak mendatanginya dan menyiramkan seember air ke mukanya.

        Itu hanyalah ilustrasi dan analogi. Sekali lagi mohon maaf jika tidak pas.

        Di sini saya ingin mengungkapkan banyak perilaku kita yang perlu diperbaiki, terutama dalam hal privasi dan yang dapat mengganggu orang lain, sekalipun hal itu sudah biasa sejak dulu. Justeru karena sudah lama, hal ini telah lama pula menumpuk rasa benci dan tidak suka kepada kita. Dan seandainya itu harus tetap kita lakukan, tentu ada cara-cara lain yang lebih arif dan bijaksana untuk melakukannya. ada beberapa perilaku yang bisa dijadikan awal perbaikan yang bisa usulkan saat ini, mungkin yang lain dapat menambahkannya yaitu antara lain:
        – penggunaan speaker di masjid saat adzan.
        – panggilan sahur pada bulan puasa
        – penggunaan speaker dalam pengajian di rumah.
        Kita semua terutama generasi muda kita mari kita ciptakan kesan Damai, yang sesungguhnya, sesuai dengan ajaran yang kita terima. Semoga dengan adanya perubahan sikap dan perilaku kita akan dapat mengakhiri rasa permusuhan dan kebencian mereka pada keyakinan kita. terima kasih atas perhatiannya.

    • jitak

      Setuju banget sama pendapatnya Mas PipingTon, Sangat2 bijaksana tanpa perlu berkata2 kotor dan arogan.

      • http://pipington.multiply.com/ pipington

        Senang sekali ada yang bisa memahami pendapat saya.

        terima kasih

  • samsudIN

    Kalau Aisyah tidak mendapat keturunan dari Muhammad, itu tidak berarti bahwa mereka tidak berhubungan seks. Anak gadis yang baru berumur 9 tahun belum matang organ reproduksinya. Jadi tidak mungkin ada proses pembuahan di dalam rahimnya. Atau bisa juga salah satu mempelai tidak subur. Itu pun bisa mungkin. Tetapi kata “menikah” dalam semua konteks budaya dan agama di dunia mencakup hubungan kelamin. Menikah artinya berhubungan (kelamin) secara legal dan resmi jadi pasangan suami-istri. Yang tidak resmi, itu namanya jajan. Dan itu pun sangat banyak dijumpai di bumi Indonesia tercinta ini, bukan hanya jauh-jauh di Barat sana.

    • Itang

      Betul itu, Jangan jelekin Org lain aja, lha wong dirinya aja burik kok. Contoh sederhana, kita sering sekali mendengar kecaman untuk orang bule kafir disono, tapi nyatanya, berapa TKW yang jadi korban keganasan cucu genologis Nabi sendiri? Menurut pendapat saya sih, emang bangsanya Nabi tuh syahwatnya besar2

      • Abi Bakar

        Kafir dalam konteks Islam umumnya mengarah kepada mereka yang menutup dan berpaling yakni menutup kebenaran dan berpaling dari menyembah Allah SWT, jadi konteksnya bukan diarahkan kepada tindakan2x amoral, seperti jinah dll, jadi jika anda mengatakan yang dicap kafir moralnya lebih baik, sangat tidak nyambung.

        Anda juga mengatakan bahwa bangsa nabi sahwatnya besar2x, memang bangsa lain tidak? Coba baca kutipan berikut ini

        # In the United States, 1.3 women are raped every minute. That results in 78 rapes each hour, 1872 rapes each day, 56160 rapes ech month and 683,280 rapes each year.
        # 1 out of every 3 American women will be sexually assulted in her lifetime.
        # The United States has the world’s highest rape rate of the countries that publish such statistics. It’s 4 times higher than Germany, 13 times higher than England, and 20 times higher than Japan.
        # 1 in 7 women will be raped by her husband.

        Sumber: http://oak.cats.ohiou.edu

        Ternyata Amerika merupakan negara yg tingkat pemerkosaannya sangat dan sangat tinggi, padahal disana free sex dibolehkan, namun tetap saja pemerkosaan dimana2x bahkan dalam 1 jam terjadi pemerkosaan pada 78 wanita. Jadi wajar saja jika TKW diperkosa di negeri dinegeri dimana hampir semuanya serba tidak boleh, jadi bangsa mana yang sahwatnya lebih besar bung?

    • Abi Bakar

      @Samsudin, namun tidak pernah diberitakan pada usia berapa Aisyah di campuri oleh Rasullah, perlu diingat mereka berkeluarga selama 8 tahun, dan Aisyah dinikahkan pada usia 9 tahun.

  • Nasir Muhammad

    Diceritakan Oleh Aisyah, Rasulullah berkata padanya : engkau diperlihatkan dua kali dalam mimpiku, Seorang Pria (Malaikat) membawa mu dalam Bungkusan Pakaian Sutra, ia berkata inilah istrimu. Aku membuka tutupan wajahmu dan ternyata itu kamu. Aku (Aisyah) berkata, jika itu dari Allah ia pasti akan terlaksana.
    Bukhari Vol 7 kitab 62 pasal 15, pasal 57

    Mimpi yang berulang bagi Para Nabi, itu adalah perintah. Seperti Ketika nabi Ibrahim bermimpi menyembelih Nabi Ismail, dan ia melaksanakannya. Jadi Nabi Muhammad Menikahi Aisyah itu adalah perintah Allah, bukan karena nafsunya sendiri.

    Diceritakan oleh Aisyah : Aku biasa bermain boneka bersama teman-temanku. Ketika Rasulullah masuk ke ruangan kami, teman2ku bersembunyi, tetapi Rasulullah memanggil mereka untuk bermain dengan ku.
    Bukhari Vol 8 kitab 73 pasal 151

    Jadi dari riwayat ini Aisyah tidaklah kehilangan masa kanak-kanaknya. Ia tetap bersenang2 dengan temannya sewaktu masih kecil, dan Nabi tidak melarangnya.

    Tetapi kalau orang lain sekarang Kawin dengan Anak di bawah umur Saya juga tidak setuju. Karena Nabi melakukan itu atas petunjuk yang diberikan Alah. Hal itu tidak berlaku untuk orang di jaman sekarang.

    • http://pipington.multiply.com/ pipington

      Ya,…
      dan jika pada jaman ini ada orang menceritakan mimpinya yang sama seperti nabi dan berulang, tidak boleh itu diklaimnya sebagai perintah Allah. Karena dia bukan seorang nabi.

      bukan begitu bung Nasir Muhammad?

  • Japri M.

    Benar sekali pendapat Anda, Bung Nasir Muhammad.
    Saya coba menjelaskan kasus ini dari sudut pandang lain dengan membuat satu perbandingan kecil: misalnya kalau nanti ada pembuktian historis (ini hanya pengandaian saja, jadi jangan dianggap benar) bahwa Yesus, sang nabinya orang Kristen itu, dulu pernah menikahi atau (sebut saja) tidur dengan seorang gadis di bawah umur. Sekali lagi ini hanya gambaran imajinatif untuk menjelaskan perbandingan saya. Jika hal itu benar, maka pertanyaan saya sekarang untuk kita semua: apakah kita-kita yang giat membela nabi kita Muhammad dengan berbagai argumen yang kelihatan dangkal dan tidak rational, apakah kita pun bangkit dan membela sang nabinya orang Kristen ini, juga dengan memakai argumen-argumen yang kita pakai untuk membela nabi Muhammad? Saya sangat yakin, sudah pasti 100% dari kita tidak akan mentolerir kasus pedofilia Yesus. Sebaliknya justru kitalah yang bakalan paling kuat berkoar-koar di jalanan dan serta-merta mengutuk kaum Kristen sebagai kaumnya nabi pedofilia. Padahal kalau mau jujur, kedua kasus itu sama saja.
    Nah… di sini letak persoalannya: kita cenderung membela dan mem”benar”kan semua kelemahan nabi Muhammad, tetapi pembelaan kita hanya berdasarkan pada pertimbangan subyektif semata. Karena dia nabi kita, jadi kita membela secara membabi buta. Kalau kasus yang sama, tapi pelakunya orang lain, ya.. kita diam-diam saja atau malahan balik menghujat.
    Jadi kita memakai patokan-ganda dalam menilai kasus. Nabi Muhamad juga seorang manusia. Kita jangan meninggikan dia sebagai Tuhan yang dari awal tanpa dosa. Dia manusia biasa, punya dosa dan salah. Sama juga seperti kita-kita yang lain. Cuma dia mendapat penerangan ilahi dari Yang Di Atas Sono.

    • http://pipington.multiply.com/ pipington

      Bung Japri M.,..
      anda tahu nggak cerita pewayangan Ramayana yang terkenal itu?
      Saya kagum pada sikap Raden Wibisono yang tetap membela kakaknya Prabu Rahwana meskipun

      jelas dia tahu bahwa kakaknyalah yang salah dalam konflik peperangan ramayana itu. Bahkan

      mempertaruhkan nyawa demi membela negaranya.
      apa kira-kira yang terlintas di benaknya menjelang sakratul maut menjemput, ketika ujung panah

      sakti mengenai jantungnya?.
      “Elo sih Bro, pake macem-macem segala,.. Gue nih, dan seluruh rakyat jadi kalang kabut… Coba elu

      diem aja di rume kan enakan”

  • Japri M.

    Tambahan kecil:
     
    Saya agak ragu dengan pendapat terakhir dari Bung Nasir Muhammad yang mengatakan:  Karena Nabi melakukan itu atas petunjuk yang diberikan Alah.
     
    Argument ini sangat BERBAHAYA.
    Allah itu kekal dan sempurna, karena itu petunjuk dan perintahNya pun sempurna adanya. Dan semua perintahNya mesti dituruti oleh umat manusia yang beriman kepadaNya. Kalau Allah memberikan legitimasi bagi Nabi Muhammad untuk menikahi anak di bawah umur, maka legitimasi itu pun berlaku untuk semua umat Islam yang mencontohi Muhammad sebagai teladan dalam beriman. Juga sampai saat ini.
     
    Tapi mengapa kebanyakan umat Muslim dewasa ini menentang untuk menikahi gadis di bawah umur? Bukankah Muhammad itu teladan yang patut dicontohi?
     

    • http://pipington.multiply.com/ pipington

      Nah,.. yang kebanyakan ini perlu dipertanyakan lagi apakah dia muslim sejati atau bukan?.

      Saya lebih menghargai sikap syekh Puji, meski ditentang oleh banyak orang.
      Menurutku dia sudah melaksanakan yang benar menurut keyakinannya.

      hanya saja dia bukan seorang nabi.

  • Japri M.

    Waduh… lagi-lagi kasus nikah bawah umur.
    Lagi-lagi di Tanah Suci Arab.
    http://www.cnn.com/2009/WORLD/meast/04/12/saudi.child.marriage/
     

    • http://pipington.multiply.com/ pipington

      Tanah Suci bukan seluruh Jazirah Arab

  • thinf

    Mestinya sebagai orang kaya kamu itu punya duit untuk beli buku atau belajar yang pinter. Kamu itu diperkarakan bukan karena kawin siri, tapi karena kawin dengan cewek di bawah umur. Memangnya apa kamu mau kalau punya anak umur 5 tahun terus dikawin sama tukang kawin kayak kamu? Kalau gak mau ya jangan kawin sama anak di bawah umur. Bisa kualat, karma.

  • pokijan

    jadi bingung ???

    kok pada nuduh kafirun ???
    siapa kafirun itu ?

  • http://cigadingport.com nungkie

    Kita ngak pernah ngusilin nabi (tuhan yesus kata mereka), ujug2 ya itukan nabi kita,tp knape ya orang yg non muslim itu selalu ngusilin kita orang yg muslim. Hm…, dasar KAFIR…!,

    • djapri s

      Loh… kok marah sama yang non-muslim sih? malah dicap kafir segala? Forum ini kan untuk pertukaran pendapat tentang apakah Nabi Muhammad itu pedofilia atau bukan. Ini kan diskusi. Setiap orang boleh ungkapkan pendapat yang menurutnya benar. Kalau pendapat seseorang salah, kan mesti ditanggapi. Bukan dicaci maki. Lebih parah lagi, kita mecaci maki tanpa menyodorkan argumen yang bisa mengalahkan atau meruntuhkan pandangan orang itu. Itu namanya diskusi pakai emosi, bukan pakai otak. Sebagai umat Islam, kita juga harus perlahan-lahan membuka otak kita dan “berdialog” dengan agama lain dalam suatu kazanah intelektual dengan mengedepkan penalaran kritis yang disertai argumentasi yang kuat. Marah dan caci maki itu (atau istilahnya: siapa bersuara paling kuat, dia menang), sudah ketinggalan jaman. Sekarang kita harus berani memberikan dasar penalaran logis tentang tuduhan non-Muslim bahwa nabi itu pedofilia. Teman saya yang bukan Muslim pun sering tanya, “Kenapa sih Nabi melarang makan babi (haram), sementara ia sendiri “makan” gadis di bawah umur?” Bagi saya sendiri, tuduhan ini menyakitkan. Namun saya bilang, situasi sosial waktu hidupnya Nabi mengizinkan seorang pria untuk menikahi beberapa wanita. Jadi untuk konteks sosial waktu itu (artinya sekitar 600 tahun silam), poligami adalah praktek yang sangat normal. Apa alasan dia mengambil seorang gadis di bawah umur, itu hanya nabi sendiri yang tahu. Al-Quran tidak memuat semua seluk beluk kehidupan Nabi secara mendetail. Atau mungkin saja, ini pendapat saya pribadi, bagian-bagian yang dianggap bisa merusak citra Nabi, dengan sengaja tidak mau dimasukkan ke dalam Al-Quran ketika kitab itu ditulis.
      Artinya kita sendiri harus lebih banyak belajar tentang situasi atau konteks hidup Nabi waktu itu supaya bisa mengerti cerita atau sejarah yang ada di dalam Al-Quran.

      • hisbullah

        saran saya kalau kt ingin cari tau ttg kehidupan detil nabi kita Muhammad saw dari berbagai literatur sebaiknya harus lebih hati hati dan kritis. karena sekarang banyak juga literatur / buku2 yg menupas ttg nabi kita tapi buku2 tsb buatan orang kafir. sekilas nampak buatan orang / media muslim.sedikit saya beri contoh buku yg pernah saya baca namun buatan 3 orang pastur dari surabaya, yg menulis buku berjudul ” berimanlah dg jembatan siratal mustaqim”. di dalam buku itu penulis menggambarkan ” siratal mustaqim” adalah seperti sebuah bangunan jembatan yang seperti kita kenal sehari hari. padahal arti ” siratal mustaqim ” adalah jalan yg lurus dan jalan itu adalah Al – Quran. ini adalah sedikit contoh literatur / buku yg mengupas ttg Islam tapi sudah dibelokkan. jadi berhati hatilah dalam mencari sumber buku / media yg mengupas ttg kehidupan nabi Muhammad saw.

        • maksudhi

          tolong pos kan links-nya dong. aku udah nyari di google tuh, cuma nga ketemu. thanks.

  • HAMBA

    KEMBALILAH KALIAN KEPADA ALQURAN DAN ALHADIST.. pahamilah dan jangan saling bertengkar karena sesuatu yang sudah jelas maksutnya..

  • http://WebsiteAnda(TidakHarus) orang awam

    seandainya kita pengikut Nabi Mohammad SAW lalu ikut menikahi anak di bawah umur apa boleh? Lalu bagaimana dengan ulah Syekh Pudji? Itu halal dan boleh? Katanya dia ikut ajaran Nabi? Bagaimana ya? Bingung jadinya..boleh tar malah amburadul negara kita. Terima kasih. semoga ada pencerahannya.

  • DATA

    Berikut saya kutipkan artikel yg semoga bermanfaat, karena saya kira umat muslimpun banyak yg tergiring opininya untuk mengikuti sejarah yg dimodifikasi kaum anti Islam.

    Klarifikasi Usia Pernikahan Sayidatuna Aisyah ra dengan Nabi Muhammad SAW

    Meluruskan Fitnah Kubro kaum Kafir Tentang Pernikahan Nabi Muhammad dengan Siti Aisyah Seorang teman kristen suatu kali bertanya ke saya,”Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?” Saya terdiam. Dia melanjutkan,” Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?” Saya katakan padanya,” Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.” Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya. Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, Orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.

    Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya.Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti. Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya.

    Bagaimaanpun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah thd orang tua dan suami tua tersebut.

    Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur dibawah 18 tahun , dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi-oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.

    Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya thd Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.

    Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyanm ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

    To be Continued :

  • DATA

    Klarifikasi Usia Pernikahan Sayidatuna Aisyah ra dengan Nabi Muhammad SAW

    BUKTI #1: PENGUJIAN THD SUMBER

    Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya, Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru

    menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

    Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : ” Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al-`asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

    Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orangIraq: ” Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

    Mizanu’l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

    KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindha ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

    KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingattanggal penting dalam sejarah Islam:

    pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu

    610 M: turun wahyu pertama AbuBakr menerima Islam

    613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat

    615 M: Hijrah ke Abyssinia.

    616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.

    620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah

    622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina

    623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

    BUKTI #2: MEMINANG

    Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

    Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).

    Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).

    Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

    KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

  • DATA

    Klarifikasi Usia Pernikahan Sayidatuna Aisyah ra dengan Nabi Muhammad SAW

    BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

    Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).

    Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

    KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.

    BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’

    Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992).

    Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, IbnKathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).

    Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

    Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).

    Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).

    Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.

    Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

    Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?

    KESIMPULAN: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

    BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD

    Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”

    Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr.

    Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”

    Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud

    KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

    bersambung :

  • DATA

    Klarifikasi Usia Pernikahan Sayidatuna Aisyah ra dengan Nabi Muhammad SAW

    BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

    Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

    Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

    KESIMPULAN: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

    BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab

    Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

    Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”. Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. ..210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

    Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karean itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

    BUKTI #8. Text Qur’an

    Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

    Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat , yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid doaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan :

    Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5)

    Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)

    Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

    Disini, ayat Qur’an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terterhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

    Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada

    mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk empercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.

    Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,” berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

    AbuBakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karean itu menentang hukum-hukum Quran.

    Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

    bersambung :

  • DATA

    Klarifikasi Usia Pernikahan Sayidatuna Aisyah ra dengan Nabi Muhammad SAW

    BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan

    Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson,

    Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.

    Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

    Adalah tidak terbayangkan bahwa AbuBakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis 7 tahun

    (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

    Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.

    KESIMPULAN: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

    SUMMARY:

    Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernha keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.

    Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karean adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

    Oleh karean itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

    sumber :
    The Ancient Myth Exposed
    By T.O. Shanavas , di Michigan. © 2001 Minaret
    from The Minaret Source: http://www.iiie.net/

    Demikian, mungkin dat2 ini bisa dikaji dan di review oleh para ahlinya, sehingga isinya dapat lebih dipertanggungjawabkan.

  • DATA

    Semoga artikel yg saya kutipkan di atas bisa membantu dalam memberi pencerahan, terutama dalam hal sejarah dan informasi yg kita tahu sudah dikuasai dan dimodifikasi oleh kaum anti Islam.
    Pemodifikasian data, informasi, berita & sejarah, sangat berbahaya, karena sifatnya yg tidak konfrontatif namun dapat menggiring opini & pemahaman suatu bangsa yg efeknya sangat luas.
    Contoh sederhana dari sejarah yg sudah dimodifikasi oleh kaum barat, yaitu tentang sejarah awal ilmu pengetahuan yg di ajarkan oleh dunia Barat kepada kita, bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari penemuan2 sejak oleh ilmuwan Barat yg dimulai sejak permulaan abad 15 dengan ditandai adanya Revolusi Industri.
    Padahal kemajuan ilmu pengetahuan dan berbagai penemuan dimulai sejak Islam diperkenalkan oleh Muhammad, banyak ilmuawan & penemuan2 penting oleh ilmuwan Islam.
    TAPI HAL-HAL INI TIDAK AKAN ADA DALAM SEJARAH, Coba cek semua buku sejarah yg di ajarkan ke kita???
    Itu semua adalah sejarah yg dibuat oleh kaum Barat untuk kepentingan yg memihak mereka.

  • http://www.muslim.or.id Riswan

    oleh Yandi Susandi pada 25 Agustus 2010 jam 5:33

    Dikisahkan dinikahinya Siti Aisyah binti Abu Bakar oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, yakni ketika Aisyah berusia 7 tahun, dan bersatu dalam rumah tangga setelah berusia 9 tahun, setelah hijrah ke Yatsrib (Madinah).

    Dengan cerita tersebut kebanyakan umat islam percaya bahwa kisahnya seperti itu. Tetapi oleh orang-orang kafir dan para musuh Islam, cerita tersebut suka dibuat cemoohan, bahwa Rosululloh menikahi anak kecil.

    Ada seorang ikhwan yang merasa penasaran terhadap kisah tersebut, apakah betul Siti Aisyah dinikahi oleh Rosululloh ketika masih anak-anak? Untuk menghilangkan rasa penasaran, maka dia melakukan penelitian yang hasilnya diantaranya sebagai berikut.

    Cerita bahwa dinikahinya Aisyah ketika berusia 7 tahun tersebut berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Hisyam bin Urwah setelah dia berada di Iraq. Adapun Hisyam awalnya merupakan orang Yatsrib, namun setelah berusia 71 tahun dia pindah ke Iraq.

    Ibnu Hajar al-Atsqolani, dalam kitabnya Tahdzibut Tahdzib juz 11 halaman 50 menjelaskan bahwa Yakub bin Syaibah menjelaskan, setelah pindah ke Iraq Hisyam bin Urwah sudah tidak dapat dipercayai lagi ucapannya.

    Adz-Dzahabi, dalam Kitab Mizanul ‘Itidal juz 4 halaman 301 menjelaskan, bahwa setelah pindah ke Iraq Hisyam menjadi pelupa akan ingatannya. Bahkan Imam Malik menolak keterangan yang berasal dari Hisyam setelah kepindahannya ke Iraq.

    Menurut Syaikh Mushtofa as-Siba’i, dalam bukunya ‘Al Hadits Sebagai Sumber Hukum serta Latar Belakang Historisnya’, halaman 123, Imam Malik telah menyebutkan bahwa Iraq merupakan Negara tempat membuat dan menyebarkan hadits palsu.(Kalimat terahir ditambahkan oleh Abdul Halim)

    Ath-Thobari dalam kitabnya Tarikhul Umam wal Mamluk, juz 4 halaman 50, menjelaskan bahwa seluruh putera Abu Bakar dilahirkannya pada zaman jahiliyah. Dengan keterangan ini dapat dipahami bahwa, ketika hijrah Siti Aisyah sekurang-kurangnya telah berusia 12 tahun.

    Dalam hadits Bukhori, dalam Kitabul Jihad dijelaskan bahwa Siti Aisyah ikut serta dalam Perang Uhud. Untuk para wanita keikutsertaannya dalam perang tersebut yakni untuk membantu kaum muslimin dalam mempersiapkan keperluan perang. Rosululloh tidak mengizinkan wanita yang berumur kurang dari 15 tahun untuk ikut dalam peperangan. Ketika Perang Uhud, diyakini usia Siti Aisyah sekurang-kurangnya sudah 15 tahun. Perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 hijriyah. Jadi ketika hijrah, Siti Aisyah telah berusia sekurang-kurangnya 15 tahun.

    Menurut Imam Ahmad, ketika Siti Khodijah telah wafat, Khaulah berkata kepada Rosululloh, “Engkau bisa menikah, baik dengan ‘bikr’ (gadis dewasa) atau dengan ‘tayyib’ (janda)”. Rosululloh berkata, “Siapakah yang ‘bikr’ itu?”. Khaulah berkata, “Aisyah”.berdasarkan keterangan tersebut, ketika menikah Aisyah telah menjadi ‘bikr’ atau gadis dewasa, bukan seorang anak-anak.

    Ibnu Hajar dalam Kitab Taqribut Tahdzib halaman 654, menjelaskan mengenai Asma, saudara tua Aisyah, bahwa Asma wafat pada usia 100 tahun, yakni pada tahun 73 Hijriyah. Maka dapat dipastikan bahwa Asma lahir pada 27 tahun sebelum Hijriyah.

    Selanjutnya Ibnu Katsir dalam Kitab al-Bidayah wan Nihayah juz 8 halaman 381, menerangkan bahwa Asma berusia 10 tahun lebih tua daripada Aisyah. Karena Asma dilahirkan pada 27 tahun sebelum hijrah, maka pasti Aisyah lahir pada 17 atau 18 tahun sebelum hijrah. Jadi ketika hijrah, Aisyah telah berusia 17 atau 18 tahun.
    Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, maka Siti Aisyah menjalin rumah tangga dengan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam ketika Aisyah berusia 17 atau 18 tahun, bukan ketika dia berusia 9 tahun.
    Wallohu A’lam
    (Dikutip dari tulisan Abdul Halim, Majalah Bina Da’wah No. 341, Rojab-Sya’ban 1429 H/Agustus 2008 M, Halaman 45-46)

  • samadhi

    asalam mualaikum wahai sahabat-sahabatku para pembela islam
    islam adalah pancaran rahmatan allah untuk semua umat semua sangkalan dan semua hujatan ke islam adalah cara orang/kumpulan yang tidak suka islam kembali memimpin dunia seperti jaman rasullulah dan kita generasi islam harus merapatkan barisan saling bergandeng dan bersatu kita kibarkan panji-panji islam di bumi allah dengan pancaran rahmatan allah untuk semua umat manusia islam agama cinta damai dan segala cara akan dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak suka islam untuk membuat islam hancur wahai saudaraku mari kita rapatkan barisan berbeda pendapat boleh dalam kontek islam tapi kita tetap harus bersatu semoga allah memberi kekuatan untuk para sahabat-sahabat pembela islam amien sungguh aku senang bisa baca komen para sahabat-sahabat pembela islam dan juga yang komen yang menghujat islam(para munafik dan penghujat islam) jadi saya tahu karakteristik manusia subhannallah amien

  • Pemuda Islam

    Assalammualaikum ya muslim . . . .
    begini ni, saya punya sedikit pertanyaan tentang pedofilia.
    saat itu teman saya bertanya pada saya, “tipe perempuan seperti apa yang kamu suka ? ”
    lalu saya jawab ” yang lebih muda dari saya, tubuhnya kecil, dan pikirannya masih polos ”
    nah tiba-tiba teman saya itu kaget dan berkata ” wah berarati kamu pedofilia ”
    apa iya saya juga termasuk pedofilia ?

    padahal yang saya maksud seperti ini :

    1. yang lebih muda dari saya
    menurut saya sudah seharusnya jika lelaki lebih tua dari perempuan.

    2. tubuhnya kecil
    maksudnya adalah langsing, imut, dan juga biar tidak terlalu berat kalau digendong, hehe . . . .

    3. pikirannya masih polos
    nah, mungkin karena hal ini teman saya langsung menerka saya pedofilia, maksud nya yaitu, yang jarang bergaul alias kuper gitu… jadi masih belum tahu apa-apa. heeee

    dari data-data di atas bagaimana pendapat pak Abi dan yang lainnya ???

    terima kasih

  • samsul jember

    Rekan-rekan seiman,
    kita ini gimana sih mau membela Nabi kita tanpa mengakui bahwa dia adalah manusia yang punya kelemahan dan kekurangan?
    Kita mengkritik orang Kristen yang menjadikan Yesus sebagai Tuhan mereka, karena di mata kita, Yesus itu seorang nabi, tapi dia tetap manusia biasa. Jadi siapa yang men-Tuhan-kan seorang manusia biasa, dia berdosa dan dosanya tak akan terhapus. Karena dia disamaratakan dengan Allah swa.
    Yang aneh di mata saya, kita sendiri kok malahan mau mengagung-agungkan Nabi Mohammad dan menempatkan dia sebagai manusia paling sempurna yang sama tinggi dengan Allah. Bukankah itu berarti, dia men-Tuhan-kan Nabi kita sendiri?
    Memiliki 4 orang istri memang dulu merupakan kultur yang sangat biasa di beberapa belahan dunia. Kita ingat, raja-raja dan sultan-sultan di Jawa dulu juga punya beberapa istri (di samping selir yang hampir ada di setiap kelurahan). Nabi kita pun hidup dalam suatu situasi masyarakat yang mengenal kebiasaan memiliki lebih dari 1 istri. Dan itu dipandang sangat wajar. Tapi itu suasana ratusan tahun yang lalu. Untuk saat ini memiliki istri 4 itu tidak normal. Lelaki yang beristri 4 pasti akan dinilai sakit, ketagihan seks, tak bisa mengekang hawa napsu, dll.
    Kita jangan cepat-cepat mencap orang lain sebagai kafir karena mereka menujukkan kelemahan kita. Sebagai manusia yang berbesar budi, kita harus belajar menerima kekurangan kita (dan kekurangan Nabi kita) dan menjelaskan kepada mereka, bahwa beristri 4 itu dulu normal. Bukan pedofilia. Pedofilia itu istilah modern, tidak dikenal di jaman Nabi. Itu saja.

    • http://abibakarblog.com Abi Bakar

      Tentu sebagai seorang manusia, nabi Muhammad SAW ada kelemahan, namun sama sekali bukan kelemahan yang digambarkan sebagai fitnah padanya oleh “mereka”.

      Dan wajib bagi kita sebagai Muslim memberikan jawaban terhadap fitnah-fitnah itu, soal pedofilia salah satunya. Dan jika “mereka” menyebut beliau SAW seorang pedofilia, hak mereka. Namun kita jg berhak menjawab.

      Tiada yang menuhankan nabi SAW disini, ingat itu, :D

  • http://hmmm.com Hmmm

    Bung abi menekankan sang nabi bkn org yg rendah diri dan tidak takut berhubungan seksual dgn wanita yg lebih tua. Saya tidak membantahnya.

    Namun mungkin orang2 yang mencap beliau sbg pedofil menggunakan pengertian lain dari abi bahas di sini, yaitu:
    “seseorang yang memiliki ketertarikan atau hasrat seksual terhadap anak-anak yang belum memasuki masa remaja”

    Pengertian ini ada di http://id.wikipedia.org/wiki/Pedofilia.

    Jadi saya pikir agak kurang nyambung tuduhan orang2 dengan jawaban bung Abi.

    Oh iya, sebenarnya umur berapa Aisyah pertama kali digauli oleh nabi?

    • http://abibakarblog.com Abi Bakar

      Info dari Wikipedia tidak lengkap, hanya berlandaskan pada definisi aka pengertian. Namun artikel ini mengungkap juga kepada masalah lebih detil yakni sisi psikologis. Harap difahami artikel ini.

  • samsul jember

    Ini satu kritik lagi buat kita yang Muslim untuk berpikir lebih kritis sebelum melontarkan kecaman terhadap penganut agama lain.
    Bung Abu Bakar menulis pada bagian awal Forum ini:
    “…Jika boleh meminjam perkataan William Montgomerry Watt bahwa, “Tiada tokoh besar dalam sejarah yang paling banyak difitnah selain Nabi Muhammad (Saw)”…”
    Pertanyaan saya: dari buku mana Bung Abu Bakar mengutip penggalan kalimat di atas yang kemudian dijadikan bahan diskusi ini? William Montgomerry Watt memang banyak menulis tentang Islam. Dia adalah seorang ahli Islam yang membawa ajaran Islam ke Eropa. Dan ulasannya tentang Islam tergolong sangat positif. Saya pernah membaca buku barunya yang berjudul “The Formative Period of Islamic Thought” (1998). Dalam buku itu dia menggarisbawahi kebesaran dan kejayaan zivilsisasi Islam yang merebak hingga ke Spanyol (Andalusia), Eropa. Juga tentang bagaimana budaya Islam yang mempengaruhi warga Spanyol kala itu. Dalam buku ini dia menggambarkan Islam secara sangat positif.
    Jadi saya sendiri jadi sangat heran ketika Bung Abu Bakar menandaskan bahwa “..Tiada tokoh besar dalam sejarah yang paling banyak difitnah selain Nabi Muhammad (Saw)…” dan mengatakan itu keluar dari mulut William Montgomery Watt. Jangan sampai Bung Abu Bakar meminjam ucapan sendiri dan mengklaim bahwa kutipan itu berasal dari pakar Islam. Artinya, dengan itu Bung Abu Bakar cuman mencari-cari alasan untuk memunculkan persoalan SARA. Padahal dasar untuk diskusi itu sebenarnya tidak ada.
    Jadi supaya ada gunanya kita berdebat, kita harus punya topik yang jelas. Topik itu bisa jadi berasal dari argumen William Montgomery Watt. TAPI TOLONG SEBUTKAN JUGA NARA SUMBERNYA!!! Tolong camtumkan juga, kutipan yang dijadikan bahan diskusi kita diambil dari buku William Montgomery Watt yang mana, terbit tahun berapa.
    Thanks.

    • http://abibakarblog.com Abi Bakar

      Hai Samsul Jember

      Ini perkataan Montgomery Watt saya jadikan landasan:

      To suppose Muhammad an impostor raises more problems than it solves. Moreover, none of the great figures of history is so poorly appreciated in the West as Muhammad.” [W Montgomery Watt Mohammad at Mecca, Oxford, 1953, p 52 SUMBER]

      Saya menterjemahkan kalimat poorly appreciated, sebagai fitnah bersandar dengan anggapan sebagain orientalis dan non muslim mengenai figur nabi Muhammad saw, yang diatributkan sebagai pedofilia, tukang perang yang bengis, tukang kawin dan fitnah-fitnah keji lainnya. Dan ini merupakan fakta, bukan fiktif.

      Poorly appreciated jika diartikan secara literal berarti di hargai sangat rendah, di anggap tidak baik, dan atributkan jelek.

      Tentunya Montgomery Watt mencantumkan kalimat Poorly Appreciated berlandaskan fakta yang dilihatnya, bahwa begitu banyak fitnah, yang disematkan kepada nabi Muhammad saw.

      Dan artikel ini bukan ditujukan sebagai kecaman terhadap kecaman terhadap penganut agama lain, darimana anda dapat kesimpulan begitu? Sebaliknya artikel ini menjawab fitnah dan kecaman terhadap nabi Muhammad saw, yang Insya Allah bermanfaat.

      Dan terima kasih sudah mengingatkan saya untuk menyebutkan sumber dari penggalan kalimat Montgomerry ini, mungkin saat itu saya terlupa sebutkan sumber, atau alasan lain yang saya tidak ingat lagi. Silahkan anda mengecek lagi sumber ini jika belum merasa puas.

      Peace :)

  • samsul jember

    Hai Bung Abi Bakar,

    saya mau mengulas sedikit terjemahan ini:
    [quote]„Moreover, none of the great figures of history is so poorly appreciated in the West as Muhammad.” [/quote]

    Mungkin rasa dan kemampuan berbahasa Inggris saya tidak sebaik bahasa Inggrisnya Bung Abi Bakar. Namun menurut saya, terjemahan yang lebih tepat untuk istilah [B]„poorly appreciated“[B] adalah: [B]Tidak mendapat penghargaan yang selayaknya (atau semestinya)[/B] atau [B]kurang dihargai[/B]. Jadi kalimat lengkapnya kira-kira berbunyi:

    [B]„…Selain itu, di Barat tidak ada tokoh besar dalam sejarah yang mendapat penghargaan yang begitu minim seperti yang diterima Muhammad…“[/B]

    Jadi artinya kira-kira sama dengan terjemahan Bung Abi Bakar dalam kalimat:

    [quote][I]Poorly appreciated[/I] jika diartikan secara literal berarti di hargai sangat rendah, di anggap tidak baik, dan atributkan jelek.[/quote]

    Tetapi adalah sangat tidak benar dan kesannya terlalu terburu-buru kalau Bung Abi Bakar tanpa pikir panjang menegaskan bahwa „[B]mendapat penghargaan yang sangat rendah[/B]“ itu sama artinya dengan „[B]memfitnah[/B]“. Loh? Kalau tidak percaya, saya beri satu contoh (ini cuman sekedar contoh aja):

    [quote]„Walaupun menciptakan sebuah lagu yang hinggi kini tetap terkenang dalam sanubari masyarakat Indonesia, Gesang Martohartono (pencipta lagu Bengawan Solo) [B]tidak mendapat penghargaan yang sewajarnya[/B] dari pemerintah.“[/quote]
    [quote]„Walaupun menciptakan sebuah lagu yang hinggi kini tetap terkenang dalam sanubari masyarakat Indonesia, Gesang Martohartono, pencipta lagu Bengawan Solo [B]difitnah[/B] oleh pemerintah.“[/quote]

    Coba bandingkan kedua kalimat di atas. Artinya sudah sangat jauh berbeda. Kalimat pertama itu bersifat pasif. Seorang tokoh ternama mungkin saja tidak dihargai karena dia belum dikenal khalayak ramai. Jadi publik hanya diam-diam saja karena memang mereka belum tahu. Sebaliknya kalimat kedua sudah kentara sikap aktifnya, yakni melontarkan serangan – baik dalam bentuk fitnahan, tuduhan, kecaman, dll.

    Nah… sekarang coba ganti atribut Gesang Martohartono dengan Muhammad dan pemerintah dengan Barat. Bung Abi Bakar…. maaf, tapi bunyi kedua kalimat itu sudah menjadi sangat lain.

    Dan inilah kesalahan yang dibuat Bung Abi:

    [quote]Saya menterjemahkan kalimat [I]poorly appreciated[/I], sebagai fitnah bersandar dengan anggapan sebagain orientalis dan non muslim…[/quote]

    Bisa jadi mereka memiliki anggapan seperti itu. Tetapi bahwa Nabi Muhammad difitnah, kalimat itu tidak terlontar dari mulut William Montgomerry Watt dan juga tidak ditulis dalam bukunya. Anggapan itu adalah hasil analisa sempit dan agak emosional yang dibuat oleh Bang Abi dan segelintir jemaat seiman yang kini giat-giatnya berusaha melindungi Islam terhadap (katanya ada) serangan dan kecaman miring dari luar. Kita boleh dan tentu saja berhak membela Islam, tapi dasar pembelaan kita harus kuat dan rasional. Jangan seperti yang ini. Nanti kalau musuh balik mengkritik dasar pembelaan kita yang pada dasarnya tidak kuat dan tidak beralasan seperti yang dibuat Bu Abi, toh pada akhirnya kita juga yang kalah lagi.

    [quote]Tentunya Montgomery Watt mencantumkan kalimat [I]Poorly Appreciated[/I] berlandaskan fakta yang dilihatnya, bahwa begitu banyak fitnah, yang disematkan kepada nabi Muhammad saw.[/quote]

    Tidak benar. Analisa itu sih [I]ngawur doang![/I]. Selain itu kalau kita mau sedikit rasional, kita jangan terlalu cepat mempercayai tulisan yang dibuat dan dipasang di Blog atau internet. Kita harus mengkaji dan mengujinya lebih kritis sebelum menyebarnya. Dulu ketika Barak Obama mau diangkat menjadi presiden USA, banyak umat Islam melonjak girang – termasuk saya: kini akhirnya ada warga Muslim yang menjadi pemimpin negara adidaya itu. Di internet tersiar banyak tulisan tentang ke-Islam-an Obama yang dianggap sebagai „Harapan Baru Dunia Islam“, lebih-lebih di negara-negara Arab. Tapi apa yang tersisa dari kegirangan awal kita? Obama tetap ke gereja setiap hari Minggu. Dan anak-anaknya pun dibaptis di gereja. Nah… di sini saya jadi kaget. Loh… kok di internet kann lain. Tapi akhirnya sadar: banyak cerita di internet itu tidak benar, apalagi sang penulisnya anonym dan tidak menyebutkan nama serta nara sumbernya.

    Kita warga Muslim senang kalau Islam akhirnya menjadi besar dan menjadi agama panutan di dunia. Tapi saya lebih bangga kalau Islam menjadi besar dengan cara yang benar dan rasional, bukan dengan cerita bohong-bohongan atau analisa asal-asalan, analisa yang semata-mata dilandaskan emosi melulu dan tidak obyektif, analisa yang menuding agama lain sebagai kafir, penyerang dan musuh. Justru hal-hal seperti itulah yang akan merusak agama kita sendiri. Dan itulah yang mau saya tentang. Kita harus obyektif!

    [quote]Dan artikel ini bukan ditujukan sebagai kecaman terhadap kecaman terhadap penganut agama lain, darimana anda dapat kesimpulan begitu?[/quote]

    Karena Bung Ari melontarkan sebuah asumsi atau [I]thesis[/I] yang tidak benar, [I]thesis[/I] yang lahir akibat terjemahan yang tidak tepat, maka di Blog atau Forum ini muncul tanggapan dan amarah sebagian umat Islam yang merasa identitas keislamannya diserang. Mereka lalu cepat-cepat balik menuding para penyerang dan mencap mereka sebagai pemfitnah, kafir, tidak beriman, dll (Bung Abi bisa baca sendiri komentar di bagian-bagian sebelumnya). Saya tuh jadi ngeri deh kalau membaca kecaman umat Islam di sini, padahal kita menyebut agama kita „Agama Damai“ (???)

    [U][B]Kesimpulan saya:[/B][/U]

    [quote]Sebaliknya artikel ini menjawab fitnah dan kecaman terhadap nabi Muhammad saw, yang Insya Allah bermanfaat.[/quote]

    Bung Abi mau mencari-cari alasan yang dinilai bisa melemahkan Islam. Dan alasan itu diyakini datang dari luar Islam, dari Barat sana. Lantas Bung Abi memakai nama William Montgomerry Watt untuk melegitimasi kecemasan yang ditimbulkan oleh ancaman imaginatif tersebut. Sayangnya Bu Abi tidak mengerti William Montgomerry Watt secara benar. Terjemahan kutipan itu ke dalam bahasa Indonesia pun sudah diberi sedikit bumbu yang pada akhirnya hanya melahirkan aroma kebencian jemaat Islam terhadap jemaat Non-Islam. Hal itu tidak boleh terjadi. Karena yang ini namanya SARA!!!

    Kita harus berargumentasi secara kritis. Karena cepat atau lama, semua ajaran agama (terserah agama apa pun) akan diuji secara kritis dan diserang habis-habisan oleh metode-metode filosofis-rasionalis. Suatu saat kita tak bisa mengelak dan berlari menghindar dari metode-metode ini yang tidak lain merupakan buah-buah pahit dari proses modernisasi.

    Peace :-)

    • http://abibakarblog.com Abi Bakar

      Memang saya akui tidak tepat mengartikan poorly appreaciated secara litergik dalam kalimat Montgomery diatas, namun saat saya menggunakan kata “memfitnah” untuk menterjemahkannya, bukan tanpa landasan, saya mengacu pada kata “impostor” pada penggalan kutipan Montgomery ini yang berarti “Penipu Yang Lihai”.

      To suppose Muhammad an impostor raises more problems than it solves.

      Bukankah sebuah fitnah jika ada yang mengatakan nabi seorang penipu lihai? Karenanya saya menyimpulkan bahwa Montgomery Watt mencantumkan kalimat Poorly Appreciated berlandaskan fakta yang dilihatnya, yakni banyak fitnah terhadap nabi. Dan memang terbukti banyak dan hal ini bukan fiktif.

      Saya tidak mencari alasan apapun bung untuk membela Islam, terlebih lagi isu “fitnah” yang anda permasalahkan, tidak berpengaruh sama sekali dengan jawaban yang coba saya hadirkan untuk membantah bahwa Nabi seorang pedofilia.

      Saya juga tidak sedang mencoba membangkitkan kebencian terhadap non Muslim, soal itu tidak perlu kontribusi saya, mereka pun sudah sangat ahli menumbuhkan kebencian disanubari kaum Muslim, salah satu contoh adalah situs Indonesia.Faithfreedom dan situs2x anti Muslim lainnya yang berteberan diinternet.

      Dan pengartian “Fitnah” oleh saya hanyalah sebuah prakata dari bahasan utama yang saya angkat disini, bahwa nabi bukan seorang pedofilia.

      Jadi silahkan anda membahas jawaban saya tentang nabi bukan pedofilia, plus mencoba memberi masukan didalamnya jika ada kekurangan, bukan membahas yang bukan topiknya :d

      Peace again

  • jembut

    jembut…posting g berguna…..kl emang iya ngapain ditutup”in…sampah

  • reymond

    mantep….tp fotomu itu ( abi bakar ).
    Seperti simbol dajjal….tlonglah dganti,,,

  • vijar

    walaupun, penerjemahan bahasa bung abi bakar sedikit salah,tapi saya sangat setuju jika bung abi mengatakan Rasulullah SAW adalah org yg plg bnyk d ftnah,.. Dan bnyk contoh2 ftnah yg d lontarkan kepada beliau, seperti pernyataan bahwa nabi menikahi aisyah di bawah umur (7 thn) krna sudah d buktikan oleh beberapa ulama2 terkemuka bhwasanya aisah di nikahi oleh Rasul, pada usia antara 14-21 thun. Mgkin bisa anda cari di situs2 lain untuk melihat buktinya, atw anda cari sndiri dengan menganalisa hadist2 yg sahih.

  • http://dwijayasblog.blogspot.com/ Dwijayasblog

    Begitulah memang, semakin tinggi mendaki, semakin kencang anginnya. Beruntunglah umat muslim memiliki pemimpin yang berjiwa besar, pengasih dan penyayang. Beliau mampu menaklukkan dirinya dengan mengekang emosi dan amarahnya. Sudah sepatutnya ditauladani.