Suatu saat dalam sebuah diskusi maya, seorang rekan nonMuslim mengajukan isu kontradiksi dalam al Quran kepada saya.Dia mengangkat kisah nabi Nuh as, menurut dia kisah nabi Nuh as yang diangkat al Quran pada Surat Al Anbiyaa’ dan Huud saling bertentangan. Pada saat itu dia menulis begini:

Bagaimana dengan anak Nuh? Menurut 21:76, Nuh dan keluarganya selamat dari air bah, begitupula disebutkan juga oleh 37:77. Tetapi dalam 11:42-43 disebutkan bahwa anak Nuh tenggelam dalam air bah.

Jawaban:

Begini, dalam ayat mengenai kisah nuh, saat menceritakan berita keselamatan kepada Nuh dan ahlinya, Qur’an mencatat waahlahu =beserta ahlinya. Sedangkan pada saat menceritakan anak Nuh as, yang tidak selamat Qur’an mencatat abnahu= anaknya. abnahu akar kata bin=anak dari.

Maka kata ‘ahli’ pada Quran surah Al Anbiyaa’ 21:76, ialah nabi Nuh as beserta orang-orang yang mengikutinya, sejalan, seiman atau yang disebut dengan ‘ahli Nuh as’. Kata ‘Ahli’ juga berarti berhak atas, seperti ahli waris dll.

Sedangkan pada surat Huud 11:42-43, anak nabi Nuh as yang inkar tidak disebut sebagai ‘ahli’ namun disebut ‘ibnu Nuh’ anak dari Nuh=ibn Nuh. Atau abnahu=anaknya(Nuh as), maksudnya ialah anak biologisnya nabi Nuh as yang tidak termasuk ahlinya. Jadi masalah ini sama sekali bukan sebuah kontradiksi.

Sebagai bahan renungngan:

Ahli kitab, apakah anak kitab. ahli nar wa ahli janah apakah diartikan anak neraka dan anak surga? juga ahli bait, apakah juga diartikan sebagai anak rumah?

Tambahan:

“Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya didalam bahtera, dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)”.( al-Qur’an Al A’raaf 7:64)

Kita bisa lihat sendiri ayat diatas memberikan pemisahan, dimana yang terdapat dalam bahtera adalah orang yang mengikuti Nuh dan yang ditenggelamkan adalah orang-orang yang mendustakannya.

Jadi orang-orang yang diselamatkan adalah ahli Nuh (as) = pengikut Nuh (as), dan orang yang ditenggelamkan adalah orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, yaitu termasuk anak biologis nabi Nuh (as)= ‘Abnahu’, ‘ibnu Nuh’.

Namun untuk memuaskan anda saya akan melanjutkan penjelasannya. Kita akan beranjak kepada kisah nabi besar Luth as, kisah kedua nabi mulia tersebut mempunyai kesamaan dimana anggota keluarga masing-masing nabi besar tersebut ada yang ‘tertinggal’ (dibinasakan). Kalau kisah nabi Luth as adalah istrinya yang tertinggal, mari kita lihat ayatnya:

“Kemudian Kami selamatkan dia (luth as) dan pengikut-pengikutnya (wa ahlahuu) kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)”.( al-Qu’ran Al A’raaf 7: 83)

‘Pengikut-pengikutnya Nabi Luth as’ dalam surat diatas ditulis ‘wa ahlahuu’= ahlinya (Luth as). Sedangkan isterinya tidak dimasukan kedalam golongan ‘ahlu Luth (as)’, ‘ilaa amra ataahuu’= ‘kecuali isterinya’, alias diluar dari golongan ‘ahlu Luth as’.

Jadi kata ‘ahli’ dalam konteks surat berkenaan kisah Nuh as, bukan dimaksudkan sebagai hubungan keluarga melainkan hubungan keimanan, seperti yang sudah saya tegaskan diatas.

Dan sebagai penutup, saya akan memberi penjelasan yang terakhir:

“Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu…”( al-Qur’an Huud 11:46).

Bahasa Arab untuk kalimat dari surat diatas adalah, ‘Qolla: Yaa Nuhuu I’nnahuu laysaa min ahlikaa’. ‘Ahlika’ berarti ‘Ahli kamu (Nuh as)’, jadi anak Nuh as bukan termasuk pengikut atau berhubungan lagi dengan nabi Nuh as.

Karena, “sesungguhnya perbuatannya yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak kamu mengetahuinya. “(al-Qur’an Huud 11:46). Jadi anaknya yang berpaling tidak termasuk kedalam ‘ahli Nuh’ yang diselamatkan Allah SWT.

Maha Benar Allah Dengan Segala Yang di FirmankanNya.

Allahu a’llam Bissawab.