Akhirnya piala Asia kali ini jatuh ketangan Irak, dengan permainan yang memukau, kerja sama tim yang solid, skil tiap pemain yang membuat saya gigit jari dan berfikir andai pemain Indonesia sepert ini. Pola permainan cepat dengan operan pendek, dan cross-in pemain sayap mereka yang indah melengkung langsung menusuk jantung pertahanan Saudi Arabia, kemudian di sambut oleh Younis Mahmud dkk lewat sundulan2x diudara, benar-benar sebuah tontonan yang menyegarkan mata.

Hidup! itulah yang saya lihat pada permainan Irak tadi, semua lini mereka dari kiper, back, Defence half, midfielder, wing dan striker semuanya hidup, tidak ada yang timpang. Sehingga menghasilkan sebuah permainan yang hidup. Permainan hidup inilah yang memaksa skuad Arab untuk bertahan. Tim Arab benar-benar dipaksa untuk bermain defensif, atau di kebiri kejantanannya he he he.

Tapi ada satu poin yang saya ingin angkat, tentu bukan lagi mengomentari permainan brilian Irak tadi (yang sudah sedikit saya tulis). Ada poin yang penting, yang harusnya menjadi motivator buat pengurus PSSI dan timnas kita (mudah2 an mereka pun sadar) agar lebih berprestasi.

Irak negara yang sedang perang, negara yang sedang berkecamuk, tidak aman, dan super keras. Bukan cuma itu problem di Irak, di sana juga terdapat problem perbedaan sekterian; sunni-syiah yang tragis, juga perbedaan Etnis, Kurdi-Arab-Persia. Jika anda melihat hubungan antara Sunni-Syiah di Indonesia sudah membuat anda gelisah, maka hal itu bukan apa-apa dibanding di Irak, sebagian mereka sudah mencapai taraf bunuh-bunuhan. Juga dendam etnis Kurdi yang selama rezim Saddam Hussein ditindas, seperti kita tahu Saddam Hussein dan pengikutnya ialah Sunni Arab.

Maka, bukannya tidak mungkin dalam satu tim Irak yang kita bersama saksikan tadi, terdapat orang Sunni, Syiah, dari etnis Arab, Persia dan Kurdi. Meskipun masing-masing mereka berasal dari etnis dan mazhab yang berbeda. Tapi mereka dapat bersatu dan bermain kompak dilapangan, walaupun negeri mereka sedang sekarat, permainan hiduplah yang mereka pertontonkan. Mereka bukan saja memboyong piala Asia musim ini, namun juga menyuguhkan permainan bagus yang memuaskan para penontonnya.

Jadi dari semua problem akbar yang menggerogoti Irak ini, tim sepak bola mereka menjawabnya dengan prestasi piala Asia. Sedangkan timnas kita, apa problemnya? Negara aman, perbedaan etnis tidak ada, perbedaan sektarian juga tidak ada, kalaupun ada tidak sebesar di Irak dan tidak berpengaruh pada timnas. Tapi untuk lolos di group saja tidak mampu, padahal menjadi tuan rumah dan di support dengan ribuan pendukungnya, yang ada dipecundangi dan selalu dipecundangi. Jika kita puas dengan timnas kita,lantas kita melihat Irak sudah seharusnya kita tidak lagi merasa puas, karena yang diberikan timnas kemarin hanyalah hal biasa, bahkan pantas di bilang hal menyedihkan.

Pada tulisan ini, saya tidak akan menawarkan apalagi mengajukan solusi atas problem di PSSI. Karena saya yakin mereka yang duduk sebagai pengurus sudah mengetahuinya, pasti itu! Apalagi masalah kering prestrasi ditubuh timnas kita sudah menjadi tradisi, jadi mustahil mereka tidak tahu solusinya, kecuali kalau mereka semuanya orang idiot.

Alasan saya menulis artikel ini, karena saya tadinya termasuk orang yang puas dengan “prestasi” timnas kita pada debutnya di Group D. Namun setelah melihat perjalanan Irak dari awal sampai mereka mampu membawa pulang piala Asia. Kepuasaan saya sirna sudah terhadap “prestasi” PSSI, sebaliknya yang ada hanya kecewa dan malu. Karena kenapa saya kecewa dan malu? bukan karena timnas kita gagal total pada piala Asia ini, namun saya kecewa karena diri saya merasa puas terhadap sesuatu yang sudah biasa, dan malu karena membiarkan diri saya BANGGA TERHADAP SEBUAH KEGAGALAN!