Mau bernostalgia beca dulu nih.
Sewaktu ku kecil, kendaraan beroda tiga dengan mesin tenaga manusia ini mudah ditemui dimana-mana. Dan terus terang ini merupakan kendaran favoritku, sering sekali ibu merayuku dengan kendaran ini, agar aku mau ikut dengannya jika ia ingin bertandang ke rumah kerabat.
“Nanti kita naik becak bi,” kata ibu saat itu dan janji itu kontan membuatku bergairah untuk ikut. Dan ibuku selalu menepati janjinya. Ketika diatas becak aku merasa bebas, tidak sesak dan sumuk. Lain halnya dengan kendaraan bermesin seperti bus, yang sering membuatku mabok perjalanan dan pusing.
Diatas becak kita lebih akrab dengan pemandangan yang hadir di pelupuk mata dan lebih jelas memperhatikannya terlebih di hibur dengan hembusan AC alam, duh indahnya hehehe.
Namun sekarang di Jakarta, becak tidak ada lagi. Kendaraan yang seliweran di jalan semuanya menggunakan mesin. Kendaraan rakyat seperti bajaj, ojek dan kancilpun memakai mesin. Sehingga kota Jakarta tak ubahnya seperti kota mesin, dan orang-orangnya pun ikut-ikutan menjadi mesin.
Terakhir kali aku melihat becak di jakarta, saat SMA kelas 1. Ketika itu aku sedang berjalan kaki dengan teman di suatu perkampungan, tanpa di sangka tiba-tiba ada becak melenggang lewat di samping kami, spontan aku memanggilnya dan langsung menaikinnya, tanpa tawar lagi aku bilang; “ke jalan raya bang!” Saat di perjalan, kami menikmatinya dengan bercakap-cakap dan tertawa riang. Sama seperti saat aku kecil dulu, berada di atas becak memang sesuatu yang indah.
Begitupun sekarang, jika kebetulan aku mengunjungi sanak famili di Solo. Aku sering beca’an (istilah orang Solo jika menaiki becak) karena di Solo kendaraan becak tidak langka dan bisa di temui dimana-mana. Apabila aku menaiki bus menuju Solo, biasanya busku tiba pada saat waktu subuh. Di situlah saat aku menikmati indahnya pemandangan Solo di subuh hari diatas becak dengan hembusan angin sejuk, yang membuatku ingin berlama-lama di atas becak.
Bernostalgia dengan becak memang asik nih.
